Irigasi atau Ilusi? Ketika Proyek Petani Jadi Bancakan Makelar dan Amplop Amplop Gelap

MAGETAN ||Jawatimur-
Ketika sawah sawah menanti air, dan petani bersandar pada harap, proyek bernama P3-TGAI datang sebagai janji.
Janji perbaikan irigasi, janji efisiensi, janji kesejahteraan.
Tapi di balik aliran air, diam-diam mengalir pula sesuatu yang lain: aroma amis potongan anggaran, dan jejak-jejak kotor permainan lama.
Di 26 desa dan kelurahan Magetan, proyek ini digulirkan.
Rp195 juta dikucurkan untuk satu titik.
Tapi sebelum dana menyentuh tanah, ia lebih dulu dijamah tangan-tangan tak kasat mata.
Bukan cuma petani yang “bekerja” tapi juga para makelar berseragam politik, yang mengklaim ini semua “berkat perjuangan mereka”.
Harga dari klaim itu?
10 hingga 15 persen dari anggaran, sebagai semacam “upeti wajib”.
“Kalau tidak ngasih, tidak akan dibantu,” begitu kata seorang warga.
Kalimat yang diucap lirih, tapi maknanya menggelegar.
Sebab ia menyimpan rasa takut dan keterpaksaan.
Dan belum selesai di situ.
Datang pula gelombang kedua: oknum media dan LSM dari luar daerah.
Berbondong-bondong, berani meminta, tak malu menyodorkan tangan.
“Amplopnya mana, mas?” jadi pertanyaan rutin, seolah ini proyek siapa cepat, dia dapat.
Ini bukan sekadar cerita tentang proyek irigasi.
Ini potret bagaimana harapan petani dipakai sebagai alat tawar-menawar kekuasaan.
Bagaimana proyek padat karya bisa berubah jadi proyek padat bancakan.
Lantas kita bertanya:
Jika dana sudah terkikis sebelum pembangunan dimulai, bisakah kualitasnya kita percaya?
Jika proyek petani justru dikapling makelar, siapa yang sebenarnya berdaulat atas tanah ini?
Dan Jika irigasi yang dibangun berasal dari uang rakyat, mengapa rakyat pula yang harus membayar “ongkos diam”?
Baca Juga:Bupati Madiun Hari Wuryanto Serukan Persatuan dan Kewaspadaan terhadap Hoaks
Tahun lalu, polisi sempat memanggil pengurus HIPPA.
Tapi hingga kini, tak ada kabar, tak ada kejelasan.
Yang tersisa hanya tanya:
Apakah hukum tak sanggup mengejar mereka yang bersembunyi di balik jubah proyek?
Di negeri ini,
air bukan hanya mengalir di selokan
tapi juga dalam skema-skema gelap yang mengeringkan nurani.(Aryo S)
