Dari Desa untuk Umat: Saat Amanah Zakat Disemai di Ujungjaya

Sumedang | Metronasionalnews.com – Pagi di Ujungjaya terasa berbeda. Udara desa masih menyimpan embun, tetapi di sebuah ruangan pertemuan, suasana telah dipenuhi wajah-wajah yang memanggul satu kata besar dalam dada: amanah. Bukan sekadar jabatan, bukan pula seremoni biasa. Di sanalah, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sumedang menanam benih tanggung jawab yang kelak akan tumbuh menjadi pohon kebermanfaatan bagi banyak jiwa.
Para pengurus Unit Pengumpul Zakat (UPZ) desa duduk rapi, namun yang paling terasa bukanlah kerapian barisan, melainkan kesungguhan hati. Di tangan merekalah, titipan umat akan berlabuh. Zakat, infak, dan sedekah—yang mungkin datang dari upah harian, hasil panen, atau gaji bulanan—akan menemukan jalannya menuju mereka yang menunggu dengan sabar: para mustahik, para penerima harapan.
Pelantikan berlangsung khidmat, seakan setiap kalimat yang diucapkan menjadi saksi antara manusia dan Tuhan. Sumpah itu tidak menggema keras, tetapi bergetar dalam batin. Karena zakat bukan sekadar angka yang berpindah tangan. Ia adalah doa orang miskin yang ingin bertahan hidup, air mata yang diam-diam meminta pertolongan, dan harapan kecil yang ingin tumbuh tanpa harus berteriak.
Selepas pelantikan, pembekalan menjadi ruang peneguhan. Di sana dibicarakan tentang tanggung jawab, tentang tata kelola, tentang aturan yang harus dijaga. Namun lebih dari itu, yang disampaikan adalah ruhnya: bahwa mengelola ZIS berarti menjaga kepercayaan. Setiap rupiah bukan sekadar dana, tetapi amanah yang akan ditanya kelak—bukan hanya oleh lembaga, tapi oleh Yang Maha Mengetahui.

Sinergi pun menjadi kata yang tak terucap kosong. UPZ desa diharapkan menjadi simpul yang mengikat kebaikan antara masyarakat, pemerintah desa, dan BAZNAS. Dari desa, aliran kebaikan itu akan bergerak pelan namun pasti—menyentuh rumah-rumah sederhana, meringankan beban, menguatkan yang rapuh, dan memberi napas baru bagi mereka yang hampir menyerah.
Kehadiran berbagai unsur—pemerintah kecamatan, aparat keamanan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat—menjadi tanda bahwa zakat bukan urusan satu pihak. Ia adalah kerja bersama. Sebab kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tetapi tentang martabat manusia yang harus dijaga bersama.
Di sudut ruangan, mungkin tak ada yang menyadari, tetapi sejarah kecil sedang ditulis. Bukan sejarah yang dicatat di buku besar, melainkan sejarah yang hidup di dapur-dapur sederhana, di wajah anak-anak yang bisa kembali sekolah, di orang tua yang tak lagi cemas memikirkan makan esok hari.
BAZNAS Kabupaten Sumedang tidak sekadar melantik pengurus. Mereka sedang menyalakan lentera-lentera kecil di desa. Lentera itu mungkin tak menyilaukan, tetapi cukup untuk menerangi jalan orang-orang yang berjalan dalam gelap.
Dan dari Ujungjaya, kita belajar satu hal: bahwa kebaikan tak selalu bersuara keras. Ia bekerja sunyi, tetapi dampaknya bisa mengguncang kehidupan. Selama amanah dijaga, zakat akan terus menjadi jembatan antara yang memiliki dan yang membutuhkan—antara doa dan jawaban.
Wahyu BK
