17 Februari 2026

Polosnya Usulan Asipa: MBG Diganti Uang Rp15 Ribu Saat Puasa, Demi Takjil dan Baju Lebaran

0

‎Sumedang | Metronasionalnews.com – Di sebuah sudut Desa Gedung Harta, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, suara polos seorang anak kelas dua sekolah dasar tiba-tiba menggema jauh melampaui ruang kelasnya. Bukan karena ia menjuarai lomba atau tampil di panggung besar, melainkan karena usul sederhana yang ia sampaikan dengan wajah ceria dan nada tanpa beban.

‎Namanya Asipa Dila Ananda. Usianya masih belia. Namun dalam hitungan hari, videonya telah ditonton ratusan ribu kali di TikTok, dibagikan lintas grup percakapan, dan diperbincangkan dengan beragam tafsir.

‎Dalam video yang diunggah akun TikTok Ibrahim Khafid dan viral pada pertengahan Februari 2026, Asipa bersandar santai di samping temannya yang mengenakan kaos olahraga. Dengan gaya khas anak-anak yang jujur dan apa adanya, ia menyampaikan permohonan kepada pemerintah terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan.

‎“Untuk pemerintah yang terkait, kami mohon MBG pas puasa diganti dengan uang Rp15 ribu, untuk kami membeli takjil dan uang sisanya akan kami sisihkan untuk menabung,” ucapnya polos.

‎Kalimat itu sederhana. Tidak dibalut istilah kebijakan publik, tidak pula memuat argumentasi panjang. Namun justru di situlah daya tariknya. Ada kejujuran yang membuat banyak orang tersenyum, sekaligus merenung.

‎Asipa tak berhenti di situ. Dengan nada riang, ia menambahkan alasan yang sangat khas dunia anak-anak: ingin memiliki baju baru saat hari raya.

‎“Kan enak jadinya kalau punya baju baru dari pemerintah pas lebaran, kan keren. Terima kasih semua, da..da,” katanya sebelum menutup video dengan lambaian tangan.

‎Video tersebut telah ditonton lebih dari 766 ribu kali. Kolom komentar pun riuh. Sebagian besar warganet terhibur oleh kepolosannya. Mereka melihatnya sebagai potret spontanitas anak negeri yang berani menyampaikan pendapat. Namun tak sedikit pula yang mencoba meluruskan, menjelaskan bahwa program MBG tidak sesederhana membagikan uang tunai.

‎Program Makan Bergizi Gratis yang dikelola pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) memang dirancang bukan sekadar memberi makan, tetapi memastikan asupan nutrisi anak-anak terpenuhi secara terukur. Di dalamnya ada rantai panjang perencanaan: pengadaan bahan, distribusi, pengawasan kualitas, hingga biaya operasional tenaga pendukung. Anggaran yang dialokasikan tidak sepenuhnya berbentuk bahan makanan yang bisa langsung diuangkan.

‎Menjelang Ramadan, dinamika semacam ini memang kerap muncul. Kebiasaan makan berubah. Jam belajar menyesuaikan. Anak-anak muslim menjalani ibadah puasa. Pertanyaannya, bagaimana program nutrisi tetap berjalan tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah?

‎BGN sebelumnya telah menegaskan bahwa program MBG tetap berjalan selama bulan suci. Namun skemanya disesuaikan bagi siswa muslim yang berpuasa. Di sejumlah sekolah, makanan dibagikan dalam bentuk paket untuk dibawa pulang. Ada pula yang mendistribusikan jatah untuk beberapa hari sekaligus, terutama karena beririsan dengan libur nasional Tahun Baru Imlek dan awal Ramadan pada 18–21 Februari 2026.

‎Penyesuaian itu menjadi jalan tengah: nutrisi tetap terjaga, sementara ritme ibadah dihormati.

‎Di tengah perdebatan anggaran dan teknis kebijakan, suara Asipa seperti mengingatkan bahwa di balik setiap program besar, ada harapan-harapan kecil yang hidup dalam benak anak-anak. Bagi mereka, Rp15 ribu bukan sekadar angka dalam dokumen keuangan negara. Itu bisa berarti segelas es buah saat berbuka, sebungkus gorengan hangat, atau tabungan kecil menuju baju baru di hari Lebaran.

Kepolosan Asipa juga membuka ruang dialog publik yang lebih luas. Bahwa anak-anak bukan hanya penerima kebijakan, tetapi juga subjek yang punya sudut pandang. Sederhana, mungkin. Naif, barangkali. Namun jujur.

‎Di era media sosial, satu video singkat bisa menjelma percakapan nasional. Dari Desa Gedung Harta, suara seorang siswi kelas dua SD menembus batas geografis, memantik diskusi tentang kebijakan, anggaran, dan makna berbagi di bulan suci.

‎Ramadan memang selalu membawa cerita. Tahun ini, salah satunya datang dari seorang anak kecil yang bermimpi tentang takjil dan baju baru—seraya tanpa sadar mengajarkan orang dewasa tentang keberanian menyampaikan harapan.

Wahyu BK




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.