18 Februari 2026

Buahdua Bergembira Menyambut Ramadan 1447 H: Satukan Warga dalam Doa dan Pawai Ta’aruf

0

‎Sumedang | Metronasionalnews.com –  Pagi itu, Selasa 17 Februari 2026, udara di Kecamatan Buahdua terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena matahari yang cepat meninggi, melainkan oleh semangat yang tumbuh sejak fajar. Ratusan warga perlahan memadati halaman Masjid Besar At-Taqwa Buahdua. Anak-anak bersarung dan berpeci berlarian kecil dengan wajah berbinar. Ibu-ibu mengenakan mukena putih, sementara para tokoh masyarakat dan unsur pemerintahan berdiri berdampingan, menyatu dalam satu niat: menjemput Ramadan 1447 Hijriah.

‎Sejak pukul 07.30 WIB, rangkaian Tarhib Ramadan dimulai. Suasana semarak pawai perlahan berubah khusyuk saat lantunan istighotsah, tausiah, dan doa bersama mengalun. Zikir dan munajat menggema pelan, menyusup ke sela-sela pagi, seolah menjadi jembatan batin menuju bulan suci yang tinggal menghitung hari.

‎Di hadapan jamaah, Camat Buahdua, H. Kiki Hakiki, S.Ag., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia adalah ruang perjumpaan. Ruang yang mempertemukan warga lintas generasi, lintas organisasi, bahkan lintas profesi, dalam satu tarikan napas kebersamaan.

‎“Ini adalah waktu yang tepat untuk refleksi diri dan mempererat ukhuwah antar sesama warga,” ujarnya, disambut anggukan dan wajah-wajah penuh harap.

‎Semarak pawai ta’aruf bergerak dari halaman masjid, menyusuri rute Bojongloa, Cibitung, Cilangkap, Sekarwangi, lalu kembali ke Buahdua. Sepanjang jalan, gema salawat dan takbir mengalir tanpa putus. Warga yang berdiri di tepi jalan melambaikan tangan, beberapa mengabadikan momen dengan telepon genggam, lainnya sekadar tersenyum bangga.

‎Anak-anak madrasah melangkah penuh semangat. Para santri membawa spanduk berisi pesan-pesan kebaikan: ajakan menjaga persaudaraan, meningkatkan ibadah, dan memperkuat kepedulian sosial. Ibu-ibu majelis taklim berjalan rapi, wajah mereka memancarkan kegembiraan sederhana yang tulus.

‎Potret itu seperti cermin kecil tentang wajah pedesaan di Kabupaten Sumedang yang tetap menjaga tradisi religius di tengah perubahan zaman. Di saat arus globalisasi kian deras, ruang-ruang kebersamaan seperti ini menjadi jangkar yang menahan masyarakat agar tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual dan gotong royong.

‎Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimcam, mulai dari Camat Buahdua, Kapolsek, Danramil, para kepala desa se-Kecamatan Buahdua, hingga berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan seperti MUI, DMI, MWC NU, Muslimat NU, BKPRMI, FKDT, PGRI, PKK, dan unsur lainnya. Kehadiran lintas elemen itu memperlihatkan satu pesan kuat: Ramadan bukan hanya milik individu, melainkan momentum kolektif yang menyatukan.

‎Sepanjang kegiatan, situasi berlangsung aman dan tertib. Koordinasi antara pemerintah kecamatan, kepolisian, dan TNI berjalan solid. Namun lebih dari sekadar pengamanan, yang terasa justru kehangatan interaksi antarwarga—sapaan, tawa kecil, dan saling mendoakan.

‎Tarhib Ramadan di Buahdua bukan sekadar tradisi. Ia adalah pernyataan bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan utama masyarakat. Bahwa doa yang dipanjatkan bersama memiliki daya rekat sosial yang tak kasat mata.

‎Ramadan memang belum sepenuhnya tiba. Namun di Buahdua, getarannya sudah terasa sejak pagi itu. Dari halaman Masjid Besar At-Taqwa, dari langkah kaki dalam pawai ta’aruf, dari senyum anak-anak hingga para sesepuh kampung—semuanya menjadi tanda bahwa bulan suci selalu disambut dengan hati yang terbuka.

‎Di sana, di bawah langit pagi yang cerah, Buahdua tidak sekadar menanti Ramadan. Ia menjemputnya dengan cinta, persaudaraan, dan kegembiraan yang tumbuh dari akar tradisi.

Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.