Mustahik Berdaya: Ketika Daun Singkong Menguatkan Ternak dan Masa Depan

Sumedang | Metronasionalnews.com – 2 Maret 2026. Di sebuah kandang sederhana di Kampung Jatigede, Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede, Sumedang, kehidupan berjalan dalam ritme yang tenang namun penuh harapan. Di sanalah Rudi, seorang peternak mustahik binaan BAZNAS Kabupaten Sumedang, merawat ternaknya dengan ketekunan yang tak banyak disorot, namun berdampak nyata.
Di tengah tantangan mahalnya harga pakan ternak yang terus berfluktuasi, Rudi memilih tidak menyerah pada keadaan. Ia memutar akal, memanfaatkan apa yang tumbuh di sekitar. Daun singkong—yang selama ini kerap dipandang sebelah mata—diolah menjadi pakan tambahan bernutrisi tinggi bagi ternaknya.
Langkah itu bukan sekadar coba-coba. Ia lahir dari kebutuhan dan keberanian untuk beradaptasi.
“Daun singkong mudah didapat dan kandungan proteinnya tinggi. Tapi tetap harus dilayukan dulu supaya aman,” ujar Rudi, menjelaskan proses sederhana namun penting untuk menurunkan kadar asam sianida (HCN) yang bisa berbahaya jika diberikan dalam kondisi segar.
Di kandang tersebut kini terdapat 18 ekor ternak: 3 ekor bakalan, 5 indukan, dan 10 cempe. Setiap hari, pola pemberian pakan dilakukan secara terukur. Rumput segar tetap menjadi menu utama, sementara daun singkong diberikan sebagai suplemen protein nabati setelah ternak selesai makan. Pola bertahap ini diyakini membantu efisiensi metabolisme dan mendukung pertumbuhan yang lebih stabil, terutama pada indukan dan cempe yang berada dalam fase krusial.
Hasilnya mulai terlihat. Kondisi ternak tampak lebih prima, bobot berkembang stabil, dan daya tahan tubuh meningkat. Di balik angka-angka itu, ada rasa percaya diri yang tumbuh perlahan dalam diri Rudi.
Program Balai Ternak BAZNAS Kabupaten Sumedang memang tidak berhenti pada pemberian bantuan ternak semata. Pendampingan dilakukan secara intensif, mulai dari manajemen pakan, perawatan kesehatan hewan, hingga strategi penguatan produktivitas. Pendekatan ini dirancang agar mustahik tak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi mampu bertransformasi menjadi pelaku usaha yang mandiri.
Apa yang dilakukan Rudi mencerminkan perubahan paradigma tersebut. Ia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan, melainkan aktif mencari solusi berbasis potensi lokal. Daun singkong yang tumbuh melimpah di sekitar desa kini menjadi simbol efisiensi dan keberlanjutan.
Di tengah tekanan biaya produksi yang kerap membuat peternak kecil goyah, inovasi sederhana ini menjadi napas baru. Praktik yang dijalankan Rudi juga mencerminkan good farming practice berbasis kearifan lokal—memaksimalkan sumber daya sekitar tanpa membebani biaya tambahan yang tinggi.
Lebih dari itu, program Balai Ternak BAZNAS membawa visi jangka panjang: zakat produktif sebagai motor penggerak ekonomi. Harapannya, mustahik yang hari ini menerima bantuan dapat tumbuh menjadi muzaki di masa depan. Sebuah transformasi yang tidak instan, tetapi dimulai dari langkah-langkah kecil dan konsisten.
Di Jatigede, daun singkong bukan lagi sekadar tanaman pinggir kebun. Ia menjelma menjadi bagian dari strategi bertahan dan bertumbuh. Dari kandang sederhana itu, harapan dirawat setiap hari—bersama rumput, bersama daun-daun yang dilayukan, dan bersama keyakinan bahwa kemandirian bisa lahir dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan.
Karena kadang, perubahan besar memang bermula dari sesuatu yang tampak sederhana.
Wahyu BK
