Ramadan Hari ke-24: Saat Hati Kembali Bersandar Sepenuhnya kepada Allah

Sumedang | Metronasionalnews.com – 14 Maret 2026. Malam-malam Ramadan kini terasa semakin sunyi, namun justru di situlah cahaya spiritual semakin terang menyala. Hari ke-24 datang perlahan di antara derap waktu yang semakin mendekatkan umat Islam pada garis akhir bulan suci. Di fase inilah, keheningan malam sering kali berubah menjadi ruang paling jujur bagi manusia untuk berbicara dengan Tuhannya.
Dalam perspektif ilmu tauhid, hari ke-24 bukan sekadar angka dalam kalender ibadah. Ia menjadi pengingat bahwa seluruh perjalanan spiritual selama Ramadan bermuara pada satu titik: pengakuan mutlak bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT.
Kesadaran itu dikenal dalam konsep Tauhid Rububiyah—sebuah keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya pengatur kehidupan, pemberi nikmat, dan sumber kekuatan bagi manusia. Puasa yang mampu ditunaikan hingga hari ke-24, kekuatan untuk bangun di sepertiga malam, hingga kesempatan bersedekah dan berbuat baik, semuanya bukan sekadar hasil usaha manusia, melainkan karunia yang diberikan oleh-Nya.
Di sinilah Ramadan mengajarkan kerendahan hati. Manusia diajak menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba yang berjalan dengan pertolongan Allah SWT.
Di sepuluh malam terakhir ini pula, tauhid tidak berhenti sebagai keyakinan dalam hati. Ia berubah menjadi tindakan nyata. Masjid-masjid kembali dipenuhi langkah kaki yang mencari kedamaian. Lantunan doa semakin panjang, sujud semakin lama, dan tangan-tangan semakin ringan berbagi kepada sesama.
Ketaqwaan, dalam makna terdalamnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bentuk pengabdian total kepada Allah, di mana setiap amal dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa berharap pujian manusia.
Di tengah suasana spiritual yang semakin dalam itu, harapan besar pun bersemi: Lailatul Qadar.
Namun pencarian Lailatul Qadar sejatinya bukan sekadar mencari malam istimewa. Ia adalah bentuk tauhid yang paling tulus—pengakuan bahwa manusia begitu kecil di hadapan kebesaran Allah, sehingga hanya kepada-Nya lah doa dan harapan disandarkan.
Pada titik ini, Ramadan mengajak manusia melakukan muhasabah—sebuah perenungan mendalam tentang perjalanan diri. Tentang ibadah yang mungkin belum sempurna, tentang niat yang harus kembali diluruskan, dan tentang hati yang harus dibersihkan dari riya’ serta kesombongan.
Hari ke-24 menjadi seperti cermin yang jujur. Ia bertanya kepada setiap hati: apakah semua ibadah ini benar-benar karena Allah, atau sekadar rutinitas yang ingin segera diselesaikan?
Maka di penghujung Ramadan ini, manusia diajak kembali menata arah. Bahwa seluruh amal, doa, dan harapan harus bermuara pada satu tujuan: memurnikan penghambaan kepada Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang berapa hari yang telah dilalui. Ia adalah perjalanan menuju satu kesadaran paling mendasar dalam kehidupan seorang mukmin—bahwa tidak ada tempat bersandar selain kepada Allah.
Dan mungkin, justru dalam keheningan malam ke-24 itulah, seseorang akhirnya benar-benar menemukan makna tauhid yang sesungguhnya.
Wahyu BK
