28 Januari 2026

Cahaya Tabligh Akbar di Bumi Gunasari: Pesan Persatuan dari Habib Ali

0

SUMEDANG | METRONASIONALNEWS.com – Sejak pagi, Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan, telah berdenyut dengan riang. Lomba gerak jalan sehat yang melibatkan ratusan warga, menjadi irama kebersamaan yang memecah sunyi jalan desa. Sore menjelang malam, denting musik organ tunggal mengisi langit Sukamulya, seolah mengantar senja dengan nada syukur. Namun, malam harinya, suasana berubah. Panggung yang tadinya penuh canda dan tawa kini diselimuti cahaya lampu dan lantunan salawat yang di iringi oleh group Seni Terbangan Al – Muhajirin.

Lapangan Dusun Sukamulya berubah jadi lautan manusia. Tua-muda, laki-laki-perempuan, semua tumpah ruah, duduk bersila, menanti kehadiran sosok ulama yang namanya harum di berbagai daerah: Habib Ali Zaenal Abidin Al Kaff. Malam itu, tabligh akbar digelar sebagai puncak rangkaian Milangkala Desa Gunasari ke-49 sekaligus peringatan HUT RI ke-80.

Kehadiran Habib Ali bagaikan oase di tengah dahaga. Kata-katanya bukan sekadar ceramah, melainkan pesan moral yang menyejukkan, seperti hujan turun di tanah kering. Di hadapan jamaah yang khusyuk, dan tamu undangan, Sekcam Sumedang Selatan, Kepala Desa, BPD, Habib Ali menyinggung kondisi bangsa yang tengah diuji. “Negeri kita sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya, dengan nada lembut namun menancap dalam.

Habib Ali mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terombang-ambing oleh isu-isu yang dapat memecah belah. Ibarat kapal besar bernama Indonesia, setiap warga adalah awak yang harus menjaga keseimbangan agar bahtera tidak karam dihempas gelombang perpecahan.

Pesannya sederhana, namun dalam: persatuan hanya dapat dijaga dengan iman dan takwa. Tanpa fondasi spiritual, kebersamaan hanya rapuh ibarat rumah tanpa pondasi. “Iman dan takwa adalah kunci hidup damai dan sejahtera,” tuturnya, seolah mengingatkan bahwa kemerdekaan yang diraih bangsa bukan hanya hadiah sejarah, melainkan amanah yang harus dijaga dengan hati yang bersih.

Malam itu, suara Habib Ali berpadu dengan bisikan angin Gunasari. Jamaah larut dalam doa, menadahkan tangan, seakan ingin merajut kembali benang-benang persatuan yang mulai renggang oleh riuh dunia. Tabligh akbar bukan sekadar acara seremonial, melainkan cermin bahwa di tengah pesta rakyat, masyarakat masih membutuhkan ruang hening untuk meneguhkan iman.

Dari jalan sehat hingga doa malam, dari musik rakyat hingga nasihat ulama, Milangkala Gunasari ke-49 menjadi mozaik: bahwa merayakan ulang tahun desa dan kemerdekaan bangsa bukan hanya soal tawa, tapi juga tentang menjaga jiwa, menyatukan langkah, dan memperkuat hati.

Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.