28 Februari 2026

Dari Rahmah Menuju Maghfirah, Saatnya Evaluasi, Muhasabah di Ujung Sepuluh Hari Pertama di Bulan Suci

0


‎Sumedang | Metronasionalnews.com – 28 Februari 2026. Tak terasa, sepuluh hari pertama Ramadan akan berlalu. Waktu seperti berlari lebih cepat dari biasanya, meninggalkan jejak tanya di hati banyak orang: sudah sejauh mana kita memaknai bulan suci ini?

‎Dalam tradisi yang bersandar pada sabda Nabi Muhammad SAW, sepuluh hari awal Ramadan dikenal sebagai fase rahmah—masa ketika kasih sayang Allah SWT diyakini tercurah tanpa batas. Namun di tengah padatnya agenda kantor, tenggat pekerjaan, hingga rutinitas rumah tangga, makna rahmah kerap teruji oleh realitas keseharian.

‎Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang jeda, tempat manusia diajak menengok ke dalam dirinya sendiri. Muhasabah menjadi kata kunci. Bukan untuk membandingkan siapa yang paling banyak tilawahnya, siapa yang paling panjang shalat malamnya, melainkan untuk bertanya dengan jujur: apakah hati ini mulai lebih lembut? Apakah niat dalam bekerja, berkarya, dan melayani sesama mulai lebih bersih?

‎Bagi banyak pekerja, sepuluh hari pertama adalah masa adaptasi. Tubuh menyesuaikan ritme makan dan tidur, sementara pikiran tetap dituntut tajam. Dalam kondisi seperti itu, menjaga niat menjadi tantangan tersendiri. Produktivitas di bulan suci sering kali disalahartikan sebagai capaian angka dan target, padahal esensinya terletak pada keikhlasan yang menyertai setiap langkah.

‎Rahmah tidak berhenti sebagai konsep teologis. Ia menuntut wujud nyata. Apakah selama sepuluh hari ini kita lebih ringan memberi? Lebih mudah memaafkan? Lebih sabar menahan amarah di tengah tekanan? Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya menentukan kualitas ibadah yang sesungguhnya.

‎Ramadhan juga mengajarkan keseimbangan. Antara profesionalitas dan spiritualitas, antara dunia dan akhirat. Bekerja tetaplah ibadah ketika diniatkan dengan benar. Melayani masyarakat, mendidik anak, menyelesaikan tanggung jawab kantor—semuanya dapat menjadi bagian dari agenda langit jika dibingkai dengan kesadaran ilahiah.

‎Kini, fase rahmah hampir bergeser menuju fase maghfirah—masa ampunan. Evaluasi atas sepuluh hari pertama bukan untuk meruntuhkan semangat bagi yang merasa belum maksimal. Justru sebaliknya, ia adalah bahan bakar untuk melangkah lebih baik. Masa lalu tak dapat diulang, tetapi sepuluh hari kedua dan ketiga masih terbentang di depan.

‎Ramadhan selalu menghadirkan peluang baru di setiap fasenya. Ia tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesungguhan. Dan mungkin, yang paling penting, keberanian untuk terus memperbaiki diri.

‎Sepuluh hari pertama telah menjadi pemanasan spiritual. Kini saatnya melangkah lebih dalam—menjadikan rahmah sebagai pijakan, maghfirah sebagai harapan, dan pembebasan sebagai tujuan.



‎Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.