13 Februari 2026

‎Di Antara Tinta dan Seragam, Silaturahmi yang Menguatkan Sumedang, Kodim 0610/Sumedang Bersama Insan Pers

0

‎Sumedang | Metronasionalnews.com – Jum’at, 13 Februari 2026. Di sebuah pagi yang bersahaja di Sumedang, langkah-langkah beriringan tak hanya menyusuri jalan setapak, tetapi juga meniti jembatan kepercayaan. Seragam loreng dan kemeja para pewarta berbaur dalam suasana yang jauh dari sekat formalitas. Di situlah Kodim 0610/Sumedang membuka ruang silaturahmi bersama insan pers, bukan sekadar agenda seremonial, melainkan perjumpaan yang menyentuh makna.

‎Komandan Kodim 0610/Sumedang, Letkol Arh Kusuma Ardianto, S.I.P., M.Han., berdiri dengan sikap tenang namun penuh penekanan pada satu hal: kebersamaan. Baginya, relasi antara TNI dan media bukan hubungan yang lahir karena kebutuhan sesaat, tetapi karena kesadaran akan tanggung jawab yang sama, menjaga masyarakat tetap tercerahkan oleh informasi yang jujur dan berimbang.

‎Di hadapan para jurnalis, ia berbicara tentang pentingnya harmoni dalam setiap proses penyampaian kabar. Informasi, menurutnya, bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah energi yang membentuk persepsi, mempengaruhi sikap, bahkan menentukan arah langkah publik. Jika disampaikan dengan utuh dan bertanggung jawab, ia menjadi cahaya. Namun jika tergelincir, ia bisa menjadi bayang-bayang yang menyesatkan.

‎Sejarah pun disentuhnya. Ia mengingatkan bagaimana lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia pada 9 Februari 1946 menjadi bukti bahwa pers bukan sekadar saksi perjalanan bangsa, melainkan bagian dari denyut perjuangan itu sendiri. Dari masa revolusi hingga era pembangunan, pers selalu hadir sebagai penjaga akal sehat publik.

‎Pengalaman pribadinya ketika bertugas di bawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana saat erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur turut menguatkan keyakinannya. Di tengah kepanikan dan abu vulkanik yang menyelimuti langit, media menjadi penghubung antara institusi dan masyarakat. Informasi yang tepat waktu dan akurat bukan hanya menenangkan, tetapi juga menyelamatkan.

‎“Kekuatan media sangat besar,” ucapnya lirih namun tegas. Sebuah kalimat yang tak membutuhkan penekanan berlebihan, sebab maknanya sudah terasa di ruang pertemuan itu.

‎Silaturahmi tersebut tak berhenti pada sambutan dan dialog. Ia mengalir dalam kebersamaan yang lebih cair. Olahraga bersama, tawa saat mencoba flying fox, langkah santai yang menyatu dalam jalan pagi, hingga keseruan memancing dan makan siang bersama—semuanya menjelma menjadi bahasa nonverbal tentang keakraban.

‎Tak ada jarak yang kaku. Yang ada hanyalah percakapan ringan, diskusi spontan, dan sesekali canda yang menghapus batas antara institusi dan profesi. Dalam momen seperti itulah, kepercayaan tumbuh secara alami.

‎Sejumlah organisasi profesi wartawan turut hadir, memperkaya suasana dengan semangat kolektif. Ada PWI, FMST, FRIC, Forjis Simpe, hingga IWOI—masing-masing membawa warna, namun dengan tujuan yang sama: menjaga kualitas informasi untuk masyarakat Sumedang.

‎Sekretaris Jenderal FMST, Rahmat Setiawan, menyebut pertemuan ini sebagai ruang positif yang patut dirawat. Baginya, komunikasi yang sehat antara TNI dan pers adalah fondasi agar informasi yang lahir tetap objektif, berimbang, dan membangun. Di tengah derasnya arus kabar yang sering kali berkejaran dengan sensasi, sinergi seperti ini menjadi penyeimbang.

‎Silaturahmi itu seakan menjadi pengingat bahwa negara tidak hanya dijaga dengan senjata, tetapi juga dengan kata. Seragam menjaga batas teritorial, sementara pena dan kamera menjaga ruang kesadaran publik. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama besar dalam merawat kondusivitas.

‎Sumedang hari itu bukan sekadar lokasi kegiatan. Ia menjadi ruang simbolik tentang bagaimana kolaborasi dibangun bukan dari kecurigaan, melainkan dari keterbukaan. Dari olahraga bersama hingga makan siang sederhana, terajut satu pesan: kemitraan bukanlah formalitas, melainkan komitmen.

‎Di akhir perjumpaan, yang tersisa bukan hanya dokumentasi kegiatan, melainkan keyakinan baru bahwa sinergi dapat terus dirawat. Bahwa TNI dan insan pers dapat berjalan seiring, menjaga informasi tetap bernilai, menjaga masyarakat tetap tercerahkan

‎Di antara tinta dan seragam, ada satu tujuan yang sama: menghadirkan kebaikan bagi Sumedang.

‎Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.