Guru PAK Terima Honor, Cimahi Tegaskan Komitmen Toleransi

Cimahi | Metronasionalnews.com – Di sebuah ruangan di lantai empat Gedung A Kantor Pemerintah Kota Cimahi, Jumat (27/3/2026), suasana terasa lebih dari sekadar seremoni. Lagu Indonesia Raya yang mengawali kegiatan seakan menjadi penanda bahwa yang sedang dirayakan bukan hanya sebuah program, tetapi juga komitmen terhadap keberagaman yang hidup di kota kecil dengan denyut toleransi yang besar itu.
Pengukuhan pemberian honor bagi Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) menjadi titik temu antara pengabdian yang selama ini berjalan senyap dan pengakuan yang kini hadir secara nyata. Inisiatif yang digagas oleh Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Cimahi itu akhirnya menemukan momentumnya—setelah dirintis sejak beberapa tahun terakhir, kini menjelma menjadi kebijakan yang benar-benar dirasakan para pengajar.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Wali Kota Cimahi Aditya Yudistira bersama jajaran pemerintah daerah, unsur DPRD, perwakilan Kementerian Agama, hingga tokoh organisasi kepemudaan lintas elemen. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan bahwa pendidikan spiritual memiliki tempat penting dalam pembangunan manusia.
Ketua GAMKI Cimahi, Pranjani H.I. Radja, dalam sambutannya menggambarkan Cimahi sebagai rumah besar bagi keberagaman. Sekitar 35 ribu umat Kristen hidup berdampingan dengan latar belakang lebih dari 70 etnis dan seluruh agama yang diakui. Dalam lanskap sosial seperti itu, pendidikan agama bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga fondasi untuk merawat harmoni.
Ia menyebut, Cimahi menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang berani melangkah lebih jauh. Program pembinaan anak-anak beragama Kristen yang mulai dirintis sejak 2022–2023 kini mencapai fase baru dengan pemberian honor kepada para guru PAK—yang selama ini menjalankan peran sebagai “guru spiritual” secara sukarela.
Honor sebesar Rp200 ribu per bulan memang tidak besar jika diukur dengan angka. Namun bagi para guru, itu adalah simbol pengakuan atas dedikasi yang selama ini diberikan tanpa pamrih. Lebih dari itu, ia menjadi bentuk kehadiran negara—atau dalam hal ini pemerintah daerah—di ruang-ruang pendidikan yang sering kali luput dari perhatian.
Wakil Wali Kota Cimahi, Aditya Yudistira, menyampaikan apresiasi kepada para pengajar yang disebutnya sebagai garda terdepan dalam membangun karakter generasi muda. Sekitar 500 anak telah mendapatkan pembinaan melalui program ini—angka yang mungkin tampak sederhana, tetapi menyimpan harapan besar tentang masa depan.
Baginya, memberikan ilmu adalah bentuk ibadah tertinggi. Pernyataan itu tidak hanya menjadi penghargaan simbolik, tetapi juga penegasan bahwa pembangunan manusia tidak bisa dilepaskan dari dimensi spiritual.
Lebih jauh, Aditya menegaskan bahwa Cimahi akan terus menjaga dirinya sebagai “miniatur Indonesia”—ruang hidup bersama yang tidak membedakan agama, suku, maupun ras. Dalam konteks itulah, kebijakan seperti pemberian honor bagi guru PAK menjadi bagian dari upaya merawat toleransi, bukan sekadar program sektoral.
Ia juga memberikan pesan sederhana namun bermakna kepada para relawan: untuk tidak lelah mengajar dan mendampingi anak-anak. Sebab di tangan merekalah nilai-nilai kebersamaan dan kemanusiaan ditanamkan sejak dini.
Di akhir acara, tepuk tangan yang terdengar bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga harapan. Harapan bahwa langkah kecil ini akan terus berlanjut, menjangkau lebih banyak anak, dan memperkuat jalinan keberagaman yang telah lama menjadi denyut kehidupan Kota Cimahi.
Red
