Hari Ibu 2025: Dari Dapur Sunyi, Ibu Menjaga Masa Depan Negeri

Sumedang | Metronasionalnews.com – Senin, 22 Desember 2025
Tanggal 22 Desember kembali hadir sebagai hari yang bukan sekadar penanda di kalender nasional. Ia datang sebagai pengingat sunyi namun kuat, tentang sosok yang namanya jarang disebut dalam pidato-pidato besar, tetapi jasanya mengalir dalam setiap denyut kehidupan bangsa: ibu.
Di pagi yang sederhana itu, di banyak rumah di pelosok desa hingga pusat kota, seorang ibu telah lebih dulu terjaga. Tangannya sibuk menyiapkan sarapan, pikirannya penuh oleh daftar kebutuhan keluarga, sementara hatinya diam-diam memanjatkan doa. Beginilah Hari Ibu dirayakan—tanpa panggung megah, tanpa sorot lampu—namun penuh makna yang tak terucap.
Makna Hari Ibu: Lebih dari Sekadar Seremonial
Peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember bukan sekadar tradisi tahunan. Tanggal ini memiliki akar sejarah panjang, bermula dari Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928, yang menandai bangkitnya kesadaran perempuan dalam perjuangan bangsa.
Tahun 2025, peringatan Hari Ibu kembali dimaknai sebagai refleksi peran perempuan—khususnya ibu—dalam keluarga, masyarakat, dan pembangunan nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas sosial, hingga keluarga di rumah masing-masing, turut memperingati hari ini dengan beragam cara: upacara sederhana, diskusi publik, kegiatan sosial, hingga unggahan reflektif di media sosial.
Namun di balik semua itu, esensi Hari Ibu tetap sama: penghormatan terhadap pengorbanan yang sering tak terlihat.
Ibu dan Perjuangan yang Tak Pernah Tercatat
Ibu adalah pekerja pertama dan terakhir dalam kehidupan seorang anak. Ia adalah guru tanpa gelar, perawat tanpa jadwal, dan penjaga harapan tanpa lelah. Dalam diamnya, ia menyimpan cemas. Dalam senyumnya, ia menyembunyikan luka.
Di desa-desa, banyak ibu yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga—bertani, berdagang kecil, atau bekerja serabutan—tanpa pernah meninggalkan peran domestik yang juga menuntut tenaga dan waktu. Di kota, ibu menghadapi tantangan ganda antara pekerjaan dan keluarga, sering kali dengan beban mental yang tak terucap.
Hari Ibu 2025 menjadi momentum untuk kembali menyoroti realitas ini: bahwa perjuangan ibu bukan kisah romantis belaka, melainkan kenyataan hidup yang membutuhkan dukungan nyata dari semua pihak.

Suara Anak, Cermin Bangsa
“Kalau tidak ada ibu, saya mungkin tidak sekolah,” ujar seorang siswa sekolah dasar saat diminta menceritakan makna ibunya dalam sebuah peringatan Hari Ibu di sekolah. Kalimat sederhana itu mencerminkan betapa besar peran ibu dalam mencetak generasi masa depan.
Di balik prestasi anak-anak bangsa—akademisi, atlet, pemimpin, hingga pekerja biasa—selalu ada sosok ibu yang berdiri di belakang layar. Mereka mungkin tak pernah tampil di halaman depan berita, tetapi dari rahim dan asuhan merekalah bangsa ini tumbuh.
Menghormati Ibu, Merawat Peradaban
Peringatan Hari Ibu juga menjadi ajakan kolektif untuk memperkuat perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Isu kesehatan ibu, pendidikan perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kesetaraan peran masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama.
Menghormati ibu tidak cukup dengan bunga dan ucapan. Ia menuntut kebijakan yang berpihak, lingkungan yang aman, serta budaya yang menghargai peran perempuan secara adil dan bermartabat.
Pada Ibu, Kita Belajar Pulang
Hari ini, 22 Desember 2025, bangsa ini kembali menundukkan kepala—bukan karena lemah, tetapi karena hormat. Hormat pada ibu, yang dengan caranya sendiri menjaga nyala kehidupan.
Jika kelak kita tersesat oleh ambisi dan hiruk-pikuk dunia, ingatlah: doa ibu selalu tahu jalan pulang.
Wahyu BK
