5 April 2026

Harsiarnas ke-93: Ketika Penyiaran Tak Lagi Sekadar Siaran, tetapi Pertahanan Bangsa‎

0


‎Sumedang | Metronasionalnews.com – Tanggal 1 April 2026 kembali menjadi penanda penting dalam perjalanan dunia penyiaran Indonesia. Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke-93 diperingati, mengingatkan publik pada jejak sejarah panjang sejak berdirinya Solosche Radio Vereeniging (SRV) di Solo pada 1 April 1933—cikal bakal penyiaran nasional yang lahir dari semangat kebangsaan.

‎Namun, Harsiarnas hari ini tidak lagi sekadar mengenang masa lalu. Ia menjelma menjadi ruang refleksi: sejauh mana penyiaran Indonesia mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

‎Tema yang diusung tahun ini, “Kolaborasi Penyiaran Mewujudkan Ketahanan Nasional”, terasa relevan sekaligus mendesak. Di tengah arus informasi yang begitu deras, media penyiaran tidak hanya berfungsi sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai penjaga stabilitas sosial dan kedaulatan informasi.

‎Dalam lanskap digital yang nyaris tanpa batas, penyiaran dihadapkan pada realitas baru: disinformasi yang menyebar cepat, polarisasi yang kian tajam, dan kepercayaan publik yang mudah goyah. Di titik inilah peran lembaga penyiaran diuji—apakah mampu tetap menjadi sumber informasi yang kredibel, atau justru ikut terseret dalam arus yang tak terkendali.

‎Penetapan Harsiarnas melalui Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 menegaskan bahwa sejarah penyiaran Indonesia berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaan. Didirikannya SRV oleh Sri Mangkoenegoro VII bukan sekadar peristiwa teknis, melainkan simbol bahwa penyiaran sejak awal memiliki misi lebih besar: menyatukan dan mencerdaskan masyarakat.

‎Kini, misi itu menghadapi tantangan yang jauh berbeda. Jika dahulu penyiaran berjuang menghadirkan suara di tengah keterbatasan teknologi, hari ini ia justru harus menyaring banjir informasi yang tak terbendung.

‎Di sinilah pentingnya kolaborasi. Tidak hanya antar lembaga penyiaran, tetapi juga dengan regulator seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), serta masyarakat sebagai konsumen sekaligus pengawas informasi. Tanpa sinergi, upaya menjaga kualitas siaran akan berjalan sendiri-sendiri dan sulit mencapai dampak yang luas.

‎Kolaborasi juga menjadi kunci untuk menghadapi disinformasi dan polarisasi yang semakin nyata di ruang publik. Penyiaran yang sehat tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga ketepatan, kedalaman, dan tanggung jawab.

‎Lebih jauh, Harsiarnas seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah penyiaran Indonesia. Apakah akan terus terjebak pada persaingan rating semata, atau berani mengambil peran sebagai pilar ketahanan nasional?

‎Sebab pada akhirnya, penyiaran bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga tentang dampak yang ditinggalkan. Informasi yang benar dapat menenangkan, mendidik, dan menyatukan. Sebaliknya, informasi yang keliru bisa memecah dan melemahkan.

‎Di usia ke-93 ini, penyiaran Indonesia berada di persimpangan penting. Sejarah telah memberi fondasi, teknologi telah membuka peluang, kini yang dibutuhkan adalah komitmen bersama untuk menjaga integritas.

‎Karena di era digital, menjaga ketahanan nasional tidak selalu dengan senjata—tetapi bisa dimulai dari satu hal sederhana: informasi yang benar dan dapat dipercaya.



Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.