Jalan Baru Menuju Harapan: Langkah Nyata Desa Gunasari Bangun Akses dan Asa Warganya

SUMEDANG | METRONASIONALNEWS.com – Di sebuah sudut tenang di kaki perbukitan Sumedang Selatan, Desa Gunasari perlahan namun pasti tengah menata langkahnya menuju masa depan yang lebih cerah. Bukan dengan gegap gempita, tapi lewat kerja sunyi yang menyentuh langsung kebutuhan warganya. Salah satunya adalah pembangunan Jalan Lingkungan di RW 08, tepat di sekitar destinasi wisata Jembatan Gantung Panyindangan—sebuah ikon baru yang belakangan mulai ramai dikunjungi.
Bagi masyarakat desa, infrastruktur bukan sekadar beton dan aspal. Ia adalah urat nadi kehidupan yang menghubungkan mimpi dengan kenyataan. Jalan yang baik berarti akses yang lancar, mobilitas yang mudah, dan ekonomi yang bergerak. Di Gunasari, kesadaran itu tumbuh subur dalam semangat gotong royong dan kebijakan yang berpihak pada kebutuhan riil masyarakat.
Kini, jalan sepanjang 226 meter dan lebar 1,5 meter itu tengah diaspal menggunakan hotmix. Proyek ini merupakan bagian dari program prioritas Pemerintah Desa Gunasari, yang dibiayai penuh dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp. 51.666.000,-. Pengerjaannya dipercayakan kepada CV. Restoe Boemi dan dilaksanakan melalui Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa, khususnya Sub Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, yang di laksanakan pada Kamis, (7/8/2025).

H. Muhtar, Kepala Desa Gunasari, menyampaikan bahwa pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi bentuk tanggung jawab moral terhadap warganya.
“Kami ingin masyarakat merasakan langsung manfaat pembangunan. Jalan ini bukan hanya untuk dilalui, tapi untuk membuka ruang gerak lebih luas bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga sosial. Kami berharap, ini menjadi awal dari percepatan pembangunan yang berkeadilan,” ungkapnya penuh harap.
Tak jauh dari lokasi pengerjaan jalan, suara anak-anak berlarian menyambut senja. Beberapa warga tampak mengabadikan momen di jembatan gantung yang kini mulai dikenal luas. Wisatawan pun mulai berdatangan, sekadar berjoging atau berswafoto. Suasana itu menjadi saksi bahwa akses yang memadai mampu menghadirkan geliat baru di sebuah desa yang selama ini tumbuh dalam diam.

Pembangunan jalan ini juga mendukung pengembangan pariwisata desa berbasis prinsip 3A: Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas. Keindahan alam yang ditawarkan Jembatan Gantung Panyindangan akan makin lengkap dengan kemudahan akses yang kini sedang disiapkan. Tak berlebihan jika ke depan, kawasan ini akan menjadi salah satu magnet wisata lokal yang ikut menggerakkan ekonomi desa.
Masyarakat menyambut baik langkah ini. Bagi mereka, jalan baru bukan hanya membuka jalur transportasi, tetapi juga membuka harapan. Harapan akan hidup yang lebih baik, hari-hari yang lebih mudah dijalani, dan cita-cita yang lebih dekat digapai.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, langkah kecil Desa Gunasari mengajarkan satu hal penting: bahwa pembangunan sejati dimulai dari memahami kebutuhan paling dasar masyarakat—dan menjadikannya prioritas yang tak bisa ditunda.
Wahyu BK
