Khofifah Blak-blakan: Sirkuit di Magetan Masih Jauh dari Standar.

Magetan – Peresmian Sirkuit Suryo di Desa Bungkuk, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Minggu (29/3/2026), tak hanya diwarnai optimisme. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa justru melontarkan catatan tajam terhadap kondisi lintasan yang baru dipakai itu.
Di hadapan peserta dan jajaran pemerintah daerah, Khofifah mengakui sirkuit tersebut masih belum layak disebut sebagai sirkuit berstandar.
“Ketika saya menjajal pertama, sirkuit ini masih jauh dari standar sebagai sebuah sirkuit,” ujar Khofifah.
Pernyataan itu menjadi sorotan karena disampaikan di tengah semangat Pemerintah Kabupaten Magetan memperkenalkan lintasan balap baru yang digadang-gadang menjadi ikon olahraga dan wisata.

Meski demikian, Khofifah tidak sepenuhnya menutup apresiasi. Ia menilai, antusiasme masyarakat Magetan Raya terhadap dunia balap justru menjadi modal besar yang tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, tingginya minat warga, terutama kalangan muda, harus dijawab dengan keseriusan pemerintah daerah dalam menyiapkan fasilitas yang memadai.
“Yang saya tangkap, masyarakat Magetan Raya, bukan hanya Magetan, memiliki antusiasme yang luar biasa,” katanya.
Karena itu, Khofifah meminta agar rencana pengembangan lintasan tidak berhenti sebatas seremoni. Ia menyebut telah ada komitmen dari Pemerintah Kabupaten Magetan untuk menyiapkan sirkuit yang lebih layak dan memenuhi standar.
“Sudah ada perencanaan dari Pemkab untuk menyiapkan sirkuit yang lebih berstandar. Kalau itu dilakukan, Pemprov Jawa Timur siap mendukung,” tegasnya.
Dukungan itu, lanjut Khofifah, bahkan diproyeksikan untuk agenda kedua dan pengembangan lanjutan, sehingga Magetan tidak hanya memiliki lintasan balap seadanya, tetapi benar-benar mampu menjadi pusat pembinaan atlet otomotif.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga meresmikan nama “Sirkuit Suryo” untuk lintasan tersebut. Nama itu diambil dari sosok R.M.T. Ario Soerjo, pahlawan nasional asal Magetan yang juga dikenal sebagai gubernur pertama Jawa Timur.
“Karena itulah pahlawan nasional yang ada di Magetan, makamnya di Magetan, dan beliau gubernur pertama di Jawa Timur,” ujarnya.
Namun, di balik penamaan yang sarat simbol, pekerjaan rumah besar masih menanti. Kondisi lintasan yang dinilai belum memenuhi standar dinilai berpotensi membuat ambisi besar menjadikan Magetan sebagai pusat olahraga otomotif hanya berhenti sebagai slogan.
Khofifah berharap keberadaan sirkuit tidak sekadar menjadi arena balap sesaat, melainkan berkembang menjadi destinasi wisata baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Kalau ada destinasi wisata, maka UKM juga akan mendapatkan penguatan. Sirkuit ini harus beriringan dengan hadirnya wisatawan dan UMKM,” katanya.
Ia membayangkan kawasan itu nantinya tidak hanya menjadi sentra olahraga, tetapi juga sentra ekonomi baru bagi warga sekitar.
“Ini harus menjadi sentra ekonomi baru, sentra sirkuit baru, sentra olahraga baru,” imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Magetan sendiri menjadi salah satu pihak penyelenggara kegiatan bersama Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga, serta Dinas Pariwisata.
Sejumlah pejabat daerah yang hadir belum memberikan penjelasan rinci mengenai kapan peningkatan standar sirkuit akan dilakukan dan berapa anggaran yang disiapkan. Padahal, pernyataan Khofifah membuka pertanyaan besar: apakah Magetan benar-benar siap menjadikan Sirkuit Suryo sebagai proyek jangka panjang, atau sekadar panggung seremonial.
Di akhir sambutannya, Khofifah berpesan agar masyarakat ikut menjaga kawasan tersebut. Ia juga meminta agar bibit-bibit pembalap muda mulai dibina sejak dini.
Menurutnya, Magetan sudah memiliki panutan seperti pembalap nasional Adenanta Putra dan Mario Suryo Aji. Kehadiran Sirkuit Suryo diharapkan bisa melahirkan lebih banyak rider dari Magetan yang mampu bersaing hingga tingkat dunia.
“Sekarang sudah ada referensi. Ada Adenanta, ada Mario Suryo Aji. Kita berharap rider-rider kelas dunia bisa lahir dari tempat ini,” pungkasnya.(Sgta)
