Langkah Politik Dony: Antara Strategi, Momentum, dan Arah Baru

Sumedang | Metronasionalnews.com – Rabu, 11 Februari 2026. Ada momen dalam politik yang tak selalu lahir dari podium, melainkan dari perjalanan panjang, perenungan sunyi, dan pembacaan arah angin zaman. Keputusan Bupati Sumedang, Dr. H. Dony Ahmad Munir, ST. MM., untuk berlabuh ke Partai Gerindra terasa seperti salah satu momen itu—sebuah titik belok yang tak hanya bicara tentang partai, tapi tentang fase baru perjalanan politik seorang kepala daerah.
Selama ini, publik mengenal Dony sebagai figur yang tumbuh dari rahim Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Posisinya sebagai Ketua DPP PPP Bidang Infokom menempatkannya bukan sekadar kader, melainkan bagian dari dapur strategis partai. Ia bukan nama pinggiran. Ia ada di jantung komunikasi partai. Karena itu, keputusan berpindah haluan ini tak bisa dibaca sebagai langkah ringan.
Di Sumedang, kabar ini mengalir dari warung kopi hingga ruang-ruang diskusi elite. Ada yang melihatnya sebagai strategi, ada pula yang menilainya sebagai penyesuaian arah di tengah konfigurasi politik nasional yang terus bergerak. Politik, bagaimanapun, bukan hanya tentang kesetiaan masa lalu, tapi juga tentang kalkulasi masa depan.
Deklarasi yang direncanakan berlangsung Jumat, 13 Februari 2026, di Gedung Negara Sumedang, seakan disiapkan bukan sekadar seremoni administratif. Kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang disebut akan memimpin langsung prosesi, serta tokoh Gerindra Maruarar Sirait, memberi isyarat bahwa peristiwa ini dipandang penting dalam peta politik Jawa Barat. Ini bukan sekadar “pindah partai”, melainkan simbol penguatan barisan.
Yang menarik, nuansa deklarasi tidak dibungkus kaku oleh simbol politik semata. Pagelaran seni dan budaya Sunda direncanakan meramaikan acara. Di sini, politik seolah mencoba menyentuh kembali akarnya: rakyat, tradisi, dan identitas lokal. Pesannya halus tapi kuat—perubahan arah politik tak berarti meninggalkan tanah pijakan budaya.
Ketua DPC Gerindra Kabupaten Sumedang saat di konfirmasi melalui pesan WA, membenarkan akan bergabungnya Dony semakin mempertegas bahwa ini bukan isu liar. Langkah itu nyata, terukur, dan tampaknya sudah melalui proses komunikasi yang matang. Bagi Gerindra, masuknya seorang kepala daerah aktif dengan rekam jejak birokrasi dan pengalaman politik tentu menjadi suntikan energi. Bagi Dony, ini bisa menjadi kendaraan baru untuk memperluas manuver dan pengaruh.
Di sisi lain, perpindahan ini juga menyisakan ruang tafsir. Apakah ini refleksi dari dinamika internal partai lama? Atau bagian dari konsolidasi menuju panggung politik yang lebih luas? Politik tak pernah hanya satu lapis. Selalu ada cerita di balik layar yang tak seluruhnya tampil di depan kamera.
Namun satu hal jelas: keputusan ini menandai babak baru. Bagi Sumedang, publik tentu berharap dinamika partai tak menggeser fokus utama: pelayanan, pembangunan, dan kesejahteraan warga. Sebab di ujung semua manuver politik, rakyatlah yang tetap menjadi pusat harapan.
Dan mungkin, di antara denting gamelan Sunda yang akan mengiringi deklarasi nanti, terselip pesan yang lebih dalam—bahwa politik boleh berganti warna, tetapi tanggung jawab kepada masyarakat harus tetap sama.
Wahyu BK
