Mamat Rohimat: Melayani Bukan Dilayani, Tapi Sepenuh Hati

Sumedang | Metronasionalnews.com – Suasana ruang paripurna DPRD Kabupaten Sumedang pada Rabu, 18 Februari 2026, terasa berbeda dari biasanya. Jika pada hari-hari lain ruangan itu menjadi arena pembahasan kebijakan dan perdebatan anggaran, pagi itu ia berubah menjadi ruang perenungan. Lantunan Surah Yasin menggema khidmat, membuka taklim aparatur yang digelar Sekretariat DPRD Kabupaten Sumedang.
Tema yang diusung bukan sekadar jargon administratif: “Birokrasi Melayani: Etika Pelayanan Publik Berbasis Nilai Agamis.” Sebuah pengingat bahwa di balik meja kerja, dokumen, dan prosedur, ada tanggung jawab moral yang tak kalah penting dari aturan tertulis.
Tausiyah disampaikan oleh KH. Endin Khoerudin, yang menekankan bahwa pelayanan publik sejatinya bukan hanya soal kecepatan dan ketepatan, tetapi juga tentang adab, keikhlasan, dan niat. Ia mengajak para aparatur untuk memandang pekerjaan sebagai ladang ibadah—tempat nilai-nilai agama diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Kegiatan ini dihadiri para pejabat struktural dan fungsional, seluruh karyawan sekretariat, hingga Dharma Wanita Persatuan. Kebersamaan yang terbangun menghadirkan kesan bahwa pelayanan publik bukan tanggung jawab individu, melainkan budaya yang harus dirawat bersama.
Dalam sambutannya, Kepala Bagian Umum Sekretariat DPRD Kabupaten Sumedang, Mamat Rohimat, menyampaikan pesan yang sederhana namun mengena.
“Peran birokrasi bukan untuk dilayani, tetapi harus melayani secara profesional dan dengan hati yang ikhlas. Berikan pelayanan dengan sepenuh hati,” ujarnya.
Kalimat itu terasa seperti refleksi sekaligus tantangan. Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin kritis, birokrasi dituntut tidak hanya responsif, tetapi juga humanis. Profesionalisme memang menjadi standar, namun tanpa empati, pelayanan mudah kehilangan makna.
Taklim yang ditutup dengan ramah tamah itu bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi ruang jeda di tengah rutinitas—tempat aparatur diajak menengok kembali niat awal mengabdi. Bahwa jabatan adalah amanah, dan pelayanan adalah wujud tanggung jawab kepada publik sekaligus kepada Tuhan.
Di ruang paripurna itu, pesan tentang pelayanan sepenuh hati menggema lebih dari sekadar slogan. Ia menjadi pengingat bahwa birokrasi yang kuat bukan hanya yang cakap secara administratif, tetapi juga yang kokoh secara moral.
Wahyu BK
