Membuka Mata, Menutup Mata: Perjalanan Singkat yang Sarat Makna

Sumedang | Metronasionalnews.com – Rabu, 18 Maret 2026. Ada satu hal yang sering kita lupakan dalam riuhnya kehidupan: bahwa hidup ini sesungguhnya sederhana. Ia hanya dimulai dari membuka mata, lalu suatu saat akan berakhir ketika mata itu tertutup untuk selamanya.
Di antara dua momen itu, manusia berjalan. Berlari. Terkadang terjatuh. Kadang terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa bertanya ke dalam diri: untuk apa semua ini?
Muhasabah diri bukan sekadar istilah yang terdengar religius. Ia adalah ruang sunyi yang jujur—tempat seseorang berhenti sejenak dari hiruk pikuk, lalu berhadapan dengan dirinya sendiri. Tanpa topeng, tanpa pencitraan, tanpa alasan.
Di sanalah pertanyaan-pertanyaan paling penting muncul.
Bukan tentang berapa banyak yang sudah dimiliki, tetapi apa yang benar-benar berarti. Bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi ke mana arah langkah itu sebenarnya.
Sering kali, manusia mengaku takut pada kematian. Namun jika direnungkan lebih dalam, yang membuat hati bergetar bukanlah kematian itu sendiri, melainkan ketidaksiapan saat ia datang. Sebuah perpisahan yang pasti, tetapi sering diabaikan.
Apa yang akan dibawa?
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak pernah ringan.
Sebab pada akhirnya, yang menemani bukanlah harta yang dikumpulkan, bukan pula jabatan yang pernah diraih. Semua itu akan berhenti di batas dunia. Yang tersisa hanyalah amal, niat, dan jejak kebaikan yang mungkin pernah ditanam—atau justru terlewatkan.
Dalam konteks kehidupan hari ini, muhasabah menjadi semakin penting. Dunia bergerak cepat, menawarkan banyak hal yang memikat, namun sering kali menjauhkan manusia dari kesadaran akan tujuan sejatinya. Kita diajak untuk terus melihat ke luar, tetapi jarang diajak untuk melihat ke dalam.
Padahal, perubahan besar selalu dimulai dari sana.
Dari kesadaran kecil bahwa hidup ini tidak selamanya. Dari kejujuran untuk mengakui bahwa kita masih kurang. Dari keberanian untuk memperbaiki diri, meski perlahan.
Muhasabah bukan tentang merasa paling berdosa, tetapi tentang tidak merasa cukup baik tanpa usaha untuk menjadi lebih baik. Ia adalah proses pulang—kembali pada fitrah, kembali pada kesadaran bahwa hidup adalah titipan, dan waktu adalah amanah.
Dan mungkin, pada akhirnya, yang perlu kita takutkan bukanlah kapan mata ini akan tertutup.
Melainkan, apakah saat itu tiba, kita sudah benar-benar siap.
Atau justru masih sibuk dengan hal-hal yang tak sempat kita tinggalkan.
Wahyu BK
