28 Januari 2026

PELAYANAN.RSUD SUMEDANG MENGECEWAKAN

0
IMG-20231003-WA0016

PELAYANAN.RSUD SUMEDANG MENGECEWAKAN

Sumedang Metronasionalnews.com Mamay Maida (30), warga Dusun Cipeureu, Desa Buanamekar, Kecamatan Cibugeul, Kabupten Sumedang. seorang Guru yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sarang Tengah meninggal dunia dengan bayi yang di kandungnya saat proses persalinan di RSUD Sumedang
Tim redaksi mencoba konfirmasi langsung ke Suaminya terkait kronologis kejadiannya.Bayi yang masih berada di dalam kandungan itu merupakan anak kedua yang pertamana seorang anak perempuan yang kini berusia 5 tahun.
Istrinya dinyatakan meninggal dunia di RSUD Sumedang pada Minggu (1/9/2023) sekitar pukul 13.14 WIB.

Ardiansyah Apandi (30) menceritakan bagaimana kronologis awal terkait istrinya yang meninggal dunia saat proses persalinan di RSUD Sumedang.

Pada Sabtu (30/9/2023) sekitar jam 8.00 pagi, saya dan istri pergi ke Puskesmas Cibugel mau cek kandungan karena kebetulan sudah lewat dari perkiraan hari lahirnya ,dari hasil pemeriksaan pihak Puskesmas kemudian menyarankan agar istrinya diperiksakan ke dokter kandungan terlebih dahulu.Setelah mencari Dokter kandung yang buka praktek hari itu kebetulan di daerah Ganeas ada yang buka praktek.Dr Dani yang.memeriksa istri saya menanyakan mau menunggu empat hari atau sekarang untuk di Rujuk ke Rumahsakitnya ?
jawaban saya ‘yang terbaik saja soalnya istri saya saat lahiran anak pertama juga sulit keluar waktu di AMC (rumah sakit), sampai harus di vakum, sekarang kondisinya sama seperti anak saya yang pertama, sudah lewat hari,” paparnya

Hari.itu juga dirujuk ke RSUD Sumedang. Kemudian masuk ruangan bidan di RSUD Sumedang pada sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, bidan memberikan penjelasan kepada Ardiansyah bahwa istrinya harus diinduksi.
Ardiansyah pun saat itu meminta kepada bidan agar segera melakukan tindakan darurat jika setelah diinduksi tidak ada reaksi atau sang bayi tidak kunjung keluar dari rahim sang ibu.
Saya pun menegaskan kepada bidan saat itu, kalau semisal 10 jam setelah diinduksi bayinya tidak kunjung keluar, mohon tindakan yang terbaik, mau caesar atau vakum yang penting selamat dua-duanya, soalnya saya trauma kejadian anak pertama, tolong catat ya itu bu bidan.
Lalu induksi pun dilakukan terhadap Mamay pada Sabtu (30/9/2023) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Kemudian pada Minggu (1/10/2023) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, Mamay pun akhirnya dimasukan ke ruang persalinan.
Saya saat itu melihat istri masih kuat, masih bisa makan, bisa ngobrol, masih biasalah,” ujar Ardiansyah.
Namun sekitar pukul 10.30 WIB, istrinya mulai merasakan sakit-sakitan serta mengaku tidak tahan oleh rasa sakit yang dirasakannya. Namun nahas, istrinya saat itu malah dimarahin oleh bidan yang ada di sana.Puncak kekesalan Ardiansyah terjadi pada sekitar pukul 11.00 WIB lebih, sebab istrinya saat itu akan diberi dikasih obat induksi kembali. Padahal obat tersebut sudah yang keempat kalinya.

Saya.memohon kepada perawat tersebut jangan dikasih-kasih obat induksi terus, sudah lakukan tindakan saja mau caesar atau bagaimana, yang penting ada yang selamat, soalnya jam 11.00 kurang, kepala bayi itu sudah kelihatan, cuma masuk lagi ke dalam,” papar Ardiansyah.

Ardiansyah bertambah kesal saat perawat malah menyodorkan surat yang harus ditanda tanganinya sebagai persetujuan atas pemberian obat induksi pada sekitar pukul 12.00 WIB.
Saya waktu itu nggak mau tandatangan kalau tidak ada tindakan, tanda tangan buat apa lagi, kata perawat untuk dikasih obat, terakhir induksi, kalau sudah 4 jam tidak berhasil baru caesar,” tuturnya.
saya waktu itu memohon-mohon kepada perawat agar istrinya dapat segera mendapatkan penanganan darurat. Namun, ia malah mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan.
Jangan nunggu sampai empat jam, ini kan sudah kritis banget, sudah darurat, lalu perawatnya jawab ‘dokternya lagi ada pasien operasi dan udah waktu istirahat mau makan,” terangnya
Hingga pada pukul 12.30 WIB, belum mendapatkan tindakan darurat apa pun. Namun setelah istrinya kedapatan kehabisan tenaga dan sudah tidak bergerak, barulah kemudian dimasukan ke ruang operasi.Dokter saat itu baru tampak bolak-balik, sementara saya saat itu sudah pasrah karena saya tahu bagaimana keadaan istri,” ungkapnya.
Kekesalan Ardiansyah kembali muncul saat mengetahui bahwa di ruang operasi masih ada dua pasien yang juga belum dilakukan tindakan apa pun. Padahal sebelumnya, seorang bidan mengatakan kepadanya bahwa dokter sedang sibuk mengoperasi pasien.tapi ternyata dua pasien di ruang operasi belum diapa-apain,” tuturnya.
Hingga pada akhirnya, Mamay pun dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 13.14 WIB bersama bayi yang masih berada di dalam kandungannya.
Atas kejadian itu, ia pun berencana akan membawa kasus meninggal istrinya itu ke ranah hukum. Hal itu dilakukan agar kejadian serupa tidak menimpa warga Sumedang lainnya.
Saya mau nuntut ke pihak rumah sakit, kalau dokter mau minta maaf, saya legowo tapi kalau dalam dua hari tidak minta maaf, saya mau ke ranah hukum karena ini keteledoran pihak rumah sakit,” terangnya.
Ia pun mengaku bahwa dari pihak RSUD Sumedang yang langsung diwakili direkturnya baru berkunjung ke rumahnya pada Senin (2/10/2023) sekitar pukul 17.30 WIB.sampai.hari.ini.Rabu ( 4/1012023)Dokter maupun perawat yang.menangani istri saya tidak.datang malahan yang datang itu Humas Rsud Sumedang sdr Rudi yang menyampaikan.permohonan maaf karena.Dokternya sibuk dan banyak pasien padahal saya bersama keluarga menunggu itikad baik dari Dokter dan petugas yang hari itu untuk datang bertemu langsung dengan saya.ungkapnya
Hari ini.saya juga kecewa dengan pihak.Rsud sumedang karena telah melaksanakna jumpa Pers tidak mengundang saya untuk mengikuti jumpa Pers tersebut dengan pihak media ,kalau saya di undang bisa menjelaskan kronologis kejadian tersebut kepada seluruh media yang hadir tidak hanya mendengarkan dari.pihak Rsud aja.“ungkapnya
Direktur Utama (dirut) RSUD Sumedang dr. Enceng memberikan klarifikasinya di depan sejumlah media yang di.undang oleh pihak Rsud catatan tidak semua media yang ada di Sumedang diundang,
Plt Dirut menjelaskan bahwa pada saat proses persalinan ada beberapa tahapan kaitannya dengan posisi kepala sang bayi. Namun yang terjadi pada bayi sang pasien saat itu posisinya tidak berubah atau tidak turun.Ada step satu, dua dan step tiga, jadi harus turun kepalanya, jadi pada kondisi ini bayi sang pasien tidak turun sebagaimana mestinya atau standarnya, jadi maksimalnya (ditunggu) satu jam,” terang Enceng kepada sejumlah wartawan di RSUD Sumedang, Selasa (3/10/2023).
Sementara pada sekitar pukul 10.00 WIB sampai 11.00 WIB, Minggu (1/10/2023), kata Enceng, kondisi sang pasien diketahui telah mengalami kelelahan.
Dan kurang lebih jam 11.35, itu terjadi keadaan umum yang mana ibu itu kesadarannya menurun,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, pihak rumah sakit pun memutuskan bahwa proses lahiran sang pasien tidak bisa dilakukan melalui metode per vaginam (proses melahirkan bayi melalui tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat medis).
Kemudian ini diputuskan tidak bisa dilahirkan vaginam atau jalan lahir biasa,” ungkapnya.Evakuasi sang pasien dari kamar bersalin menuju ruang operasi pun dilakukan oleh pihak rumah sakit. Namun nahas, kondisi sang pasien tiba-tiba mengalami koma pada saat dilakukan proses evakuasi tersebut.
Dokter kandungan dan dokter spesialis anastesi saat itu langsung melakukan penanganan karena kondisi sudah tidak memungkinkan, meski segala sesuatu telah dipersiapkan di ruang operasi,” paparnya.Sang pasien pun pada akhirnya dilarikan ke ruang ICU agar mendapatkan ventilator atau alat bantu pernapasan. Namun sayang, nyawa pasien saat itu tidak dapat tertolong.Pasien meninggal di ruang ICU pada sekitar jam 13.04,” ucapnya.
Sementara terkait penyebab pasti dari kematian sang pasein dan bayinya sendiri, sejauh ini belum diketahui secara pasti oleh pihak rumah sakit.
Sampai berita ini dibuat Ardiansyah belum mendapatkan jawaban yang.pasti.apa yang menyebabkan meninggalnya Istri dan anaknya…
Kepala Desa Buanamekar saat di minta tanggapan terkait kejadian ini menjelaskan“saya.sangat kecewa dengan pelayanan di Rsud Sumedang karena saya sering mendapat keluhan dari khususnya warga saya maupun desa lain karena kebetulan.saya sebagai ketua Dpk.Apdesi Cibugel dan.Pengurus Dpc Apdesi Kabupaten sering mendapat keluhan dari Kepala Desa lain terkait pelayan di Rsud semoga dengan kejadian pihak Rsud meningkat pelayanannya jangan hanya mencari keuntangan aja dari orang sakit tapi juga rasa Sosialnya juga.di tingkatkan.(apih )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.