Ramadan Hari ke-25: Saat Hati Menghitung Diri di Ambang Lailatul Qadar

Sumedang | Metronasionalnews.com – Minggu, 15 Maret 2026. Ramadan berjalan begitu cepat. Seolah baru kemarin umat Islam menyambutnya dengan penuh harap, kini bulan suci itu telah sampai pada hari ke-25—sebuah fase yang kerap disebut sebagai puncak perjalanan spiritual.
Di titik ini, suasana Ramadan terasa berbeda. Ada keheningan yang lebih dalam di masjid-masjid pada malam hari. Lampu-lampu masih menyala, sajadah-sajadah tetap terbentang, dan lantunan doa terdengar lebih lirih. Bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi sebuah percakapan sunyi antara manusia dengan Tuhannya.
Hari ke-25 bukan hanya tentang melanjutkan puasa. Ia adalah momentum untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan diri selama hampir sebulan penuh menjalani Ramadan. Dalam tradisi spiritual Islam, momen seperti ini dikenal sebagai muhasabah—sebuah evaluasi jujur terhadap diri sendiri.
Sebab sering kali, manusia begitu mudah menghitung hari, tetapi lupa menghitung kualitas amalnya.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana pun mulai muncul di dalam hati: apakah puasa yang dijalani selama ini benar-benar menahan diri dari dosa? Atau baru sebatas menahan lapar dan dahaga? Apakah lisan sudah terjaga dari kata-kata yang menyakiti, dan hati sudah dijauhkan dari iri serta prasangka?
Ramadan, pada akhirnya, bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan manusia untuk membersihkan dirinya.
Hari ke-25 menjadi momen penting untuk menilai kembali semangat ibadah. Ada yang mungkin justru semakin kuat menjelang akhir Ramadan, tetapi tidak sedikit pula yang mulai kelelahan. Padahal dalam tradisi para ulama, sepuluh malam terakhir justru menjadi fase paling serius dalam beribadah.
Nabi Muhammad SAW bahkan dikenal “mengencangkan ikat pinggangnya” pada hari-hari terakhir Ramadan—sebuah simbol bahwa perjuangan spiritual mencapai puncaknya di akhir bulan.
Karena di sinilah harapan terbesar umat Islam berada: Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Malam itu tidak diketahui kapan tepatnya datang. Ia tersembunyi di antara malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir—malam ke-25 termasuk salah satu yang paling diharapkan. Ketidakpastian itu bukan tanpa hikmah. Ia seolah mengajarkan manusia untuk tidak beribadah hanya pada satu malam, tetapi bersungguh-sungguh di setiap kesempatan.
Di banyak masjid, sebagian orang memilih berdiam diri dalam i’tikaf, menghabiskan malam dengan salat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Mereka menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia, mencari ketenangan yang sering kali sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Di saat seperti ini, doa-doa pun terdengar lebih tulus. Salah satu yang paling sering dilantunkan adalah doa yang diajarkan Nabi:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku.
Doa yang sederhana, tetapi sarat makna. Sebab di penghujung Ramadan, yang paling diharapkan seorang hamba bukanlah pujian atas ibadahnya, melainkan pengampunan atas segala kekurangannya.
Selain memperbanyak doa, banyak pula yang berusaha menambah amal baik: memperbanyak sedekah, menyelesaikan tilawah Al-Qur’an, atau membantu sesama. Amal-amal kecil itu menjadi seperti tabungan sunyi yang disimpan untuk kehidupan yang lebih panjang dari sekadar dunia.
Namun hari ke-25 juga membawa satu kesadaran lain: Ramadan tidak akan selamanya bersama kita.
Kesadaran itu sering membuat hati terasa lebih lembut. Ada perasaan ingin memanfaatkan sisa waktu sebaik mungkin, seolah sedang berpamitan dengan tamu yang sangat dicintai.
Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan pulang—pulang kepada diri yang lebih bersih, kepada hati yang lebih jujur, dan kepada Tuhan yang selalu membuka pintu ampunan.
Maka jika Ramadan hampir berakhir, barangkali pertanyaan yang paling penting bukan lagi berapa hari yang tersisa.
Tetapi: sudahkah kita benar-benar berubah?
Wahyu BK
