28 Januari 2026

Saat Harapan Kembali Berdiri: BAZNAS Sumedang Salurkan Kaki Palsu bagi Penyandang Disabilitas

0

‎Sumedang | Metronasionalnews.com  — Di balik sepasang kaki palsu, tersimpan kisah tentang kehilangan, ketabahan, dan harapan yang lama tertahan. Senin, 26 Januari 2026, menjadi hari yang tak mudah dilupakan bagi tujuh penyandang disabilitas di Kabupaten Sumedang. Di Kantor BAZNAS Sumedang, mereka bukan hanya menerima alat bantu gerak, tetapi juga menerima kembali peluang untuk berdiri, melangkah, dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.

‎Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sumedang menyalurkan bantuan kaki palsu kepada tujuh penerima manfaat dari keluarga kurang mampu. Program ini merupakan bagian dari pendayagunaan zakat di bidang kemanusiaan dan kesehatan, yang menyasar masyarakat dengan keterbatasan fisik sekaligus ekonomi.

‎Ketua BAZNAS Kabupaten Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas, menegaskan bahwa zakat harus dimaknai lebih dari sekadar bantuan sesaat. Menurutnya, zakat harus menjadi solusi nyata yang mampu memulihkan martabat hidup mustahik.

‎“Zakat bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang memulihkan. Dengan kaki palsu ini, kami ingin para penerima kembali melangkah dengan percaya diri dan memiliki kesempatan yang sama untuk hidup produktif,” ujar Ayi.

‎Ia menjelaskan, bantuan kaki palsu ini diberikan setelah melalui proses pendataan, verifikasi, serta asesmen kondisi kesehatan dan sosial ekonomi calon penerima. BAZNAS memastikan bantuan tepat sasaran, terutama bagi mereka yang selama ini kesulitan beraktivitas karena keterbatasan alat bantu.

‎Program ini, lanjut Ayi, dapat terlaksana berkat kepercayaan para muzaki yang menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS Sumedang. Setiap dana yang dihimpun, katanya, harus dikelola secara amanah, profesional, dan memberi dampak nyata.

‎“Inilah wajah zakat yang kami perjuangkan, zakat yang mengangkat derajat, bukan sekadar meringankan beban,” tegasnya.

‎Bagi para penerima, kaki palsu itu bukan hanya benda medis. Ia adalah jembatan menuju kehidupan yang selama ini terasa terhenti. Banyak dari mereka kehilangan kemampuan bergerak akibat kecelakaan, penyakit, atau kondisi bawaan, yang berdampak pada hilangnya pekerjaan dan kemandirian.

‎Kini, dengan alat bantu tersebut, peluang untuk kembali bekerja, beraktivitas sosial, bahkan sekadar berjalan tanpa rasa bergantung, perlahan terbuka kembali.

‎Suasana haru menyelimuti ruangan saat satu per satu penerima mencoba kaki palsu yang telah disesuaikan. Ada senyum yang tertahan, ada mata yang berkaca-kaca—sebuah bahasa perasaan yang tak memerlukan banyak kata.

‎Salah satu penerima bantuan, Eman, tak mampu menyembunyikan emosinya. Selama ini ia harus mengandalkan bantuan orang lain untuk aktivitas sehari-hari. Keterbatasan fisik membuatnya sulit bekerja dan menafkahi keluarga.

‎“Saya seperti diberi kesempatan kedua untuk berjalan dan bekerja lagi. Terima kasih kepada BAZNAS dan para donatur. Bantuan ini benar-benar mengubah hidup saya,” tutur Eman dengan suara bergetar

‎Bagi Eman dan penerima lainnya, langkah pertama dengan kaki palsu bukan hanya gerakan tubuh, melainkan simbol kebangkitan harapan.

‎Program bantuan kaki palsu ini menegaskan peran zakat sebagai instrumen pemberdayaan sosial. Ketika dikelola dengan baik, zakat tidak berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi berkembang menjadi program produktif yang memulihkan fungsi sosial dan ekonomi mustahik.

‎Dari Sumedang, BAZNAS menunjukkan bahwa kepedulian yang ditata dengan sistem yang amanah mampu menjelma menjadi energi perubahan. Zakat hadir bukan sekadar untuk mengurangi kesulitan, tetapi untuk mengembalikan langkah yang sempat terhenti dan menumbuhkan masa depan yang lebih bermartabat.

‎Di ujung acara, ketika para penerima mulai mencoba berjalan, lantai kantor BAZNAS seolah menjadi saksi: bahwa dari sepasang kaki palsu, lahir kembali keberanian untuk melangkah.

Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.