Tangis Kepala Sekolah di Magetan: Didatangi Oknum Mengaku Wartawan, Diminta Jutaan Rupiah Jelang Lebaran

MAGETAN – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, suasana yang seharusnya penuh ketenangan justru berubah menjadi kecemasan bagi sejumlah kepala sekolah di Kabupaten Magetan. Mereka mengaku trauma setelah didatangi oknum yang mengaku sebagai awak media dan meminta uang dengan dalih publikasi hingga Tunjangan Hari Raya (THR).
Peristiwa memilukan itu terjadi di beberapa sekolah di wilayah Magetan. Salah satu kepala sekolah yang menjadi korban mengaku masih merasa takut dan enggan menyebutkan identitasnya demi keselamatan.
Dengan suara lirih, ia menceritakan bagaimana tiga orang yang mengaku dari media luar daerah datang ke sekolahnya dan langsung meminta uang dalam jumlah besar.
“Datang tiga orang, per orang mintanya Rp1,5 juta. Lah terus uang dari mana?” ungkapnya dengan nada sedih.
Menurut penuturannya, para oknum tersebut berdalih ingin menjalin kerja sama publikasi melalui nota kesepahaman (MoU). Namun anehnya, mereka tidak membawa dokumen apa pun dan justru meminta pihak sekolah yang membuatkan MoU tersebut.
“Mereka minta kerja sama MoU, tapi tidak membawa konsepnya. Malah suruh kami yang buat. Ya saya tidak mau, wong sekolah juga tidak butuh,” ujarnya.

Situasi sempat memanas karena permintaan uang yang dianggap tidak masuk akal. Demi menghindari keributan dan menjaga suasana belajar tetap kondusif, pihak sekolah akhirnya memberikan sejumlah uang sekadar “uang bensin” agar para tamu tak diundang itu segera pergi.
Namun harapan agar masalah selesai ternyata tak terjadi. Karena merasa tidak puas dengan nominal yang diberikan, para oknum tersebut kemudian menulis pemberitaan negatif tentang sekolah tersebut di sebuah blog yang identitas redaksinya tidak jelas.
“Tulisan mereka tidak ada yang benar. Mengada-ada semua. Terus terang kami jadi takut kalau ada yang datang mengaku wartawan lagi. Ini membuat citra wartawan yang benar-benar bekerja dengan baik ikut tercoreng,” tuturnya.
Keresahan serupa juga dialami sekolah lain di Magetan. Bahkan dalam satu kejadian, sekitar 15 orang datang bersamaan ke sebuah sekolah dan meminta uang antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per orang.
Karena merasa tertekan dan khawatir mengganggu aktivitas belajar siswa, pihak sekolah akhirnya memberikan Rp50 ribu per orang agar mereka segera meninggalkan lokasi. Peristiwa tersebut sempat viral di media sosial dan memicu keprihatinan banyak pihak.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Wilayah Ponorogo–Magetan, Maskun, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah memberikan instruksi kepada sekolah untuk memberikan uang kepada pihak mana pun.
“Kalau terkait THR, kalau memang mau memberi itu urusan pribadi, bukan urusan lembaga. Tidak ada imbauan atau rekomendasi dari Cabang Dinas,” ujar Maskun pada Jumat (6/3/2026).
Maskun juga menyayangkan tindakan intimidasi yang mengatasnamakan media. Menurutnya, kerja sama media seharusnya bersifat saling menguntungkan dan memberikan nilai edukasi, bukan menjadi alat tekanan terhadap institusi pendidikan.
“Namanya kerja sama harus mutualisme. Tapi kalau sekolah tidak mendapatkan manfaat apa pun dan justru diberitakan miring seperti tudingan pungli, tentu itu sangat disayangkan,” tegasnya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur telah menginstruksikan seluruh kepala sekolah agar lebih waspada dan selektif menerima tamu yang datang mengatasnamakan media.
“Kami sudah mengingatkan kepala sekolah agar berhati-hati. Kami juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum agar dunia pendidikan di Magetan tetap kondusif,” pungkas Maskun.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik ruang kelas yang penuh harapan, para pendidik juga menghadapi tekanan yang tak sedikit. Mereka hanya ingin sekolah tetap menjadi tempat belajar yang aman bagi anak-anak, tanpa bayang-bayang intimidasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab.(Sgta)
