Tradisi di Ujung Senja: “MAWAKEUN” dan “PAWAI RANTANG” Yang Tinggal Kenangan

Sumedang | Metronasionalnews.con – Di jalan-jalan desa yang dulu ramai oleh langkah kaki dan tawa, kini hanya tersisa sunyi yang berjalan pelan. Sawah masih membentang hijau, angin masih berhembus lembut, tetapi ada yang hilang—sesuatu yang dulu tak terlihat penting, namun kini terasa begitu berarti.
Ia bernama MAWAKEUN
Di sebagian wilayah Kabupaten Sumedang, tradisi ini pernah menjadi denyut kehidupan saat Idul Fitri tiba. Ibu-ibu berjalan beriringan membawa rantang kantet—susunan tempat makan bertingkat berisi nasi pulen, ayam, bihun, tahu, hingga kerupuk udang. Mereka melangkah bukan sekadar mengantar makanan, tetapi mengirimkan rasa: kasih sayang, silaturahmi, dan kehangatan yang tak bisa dibungkus kata.
Pemandangan itu kerap disebut “pawai rantang”. Barisan panjang yang bukan untuk dipertontonkan, tetapi tumbuh alami dari kebiasaan berbagi. Di sepanjang jalan desa, salam-salaman terjadi tanpa jarak, tanpa sekat. Semua terasa dekat, bahkan bagi mereka yang jarang bertemu.
Namun kini, tradisi itu seperti berdiri di tepi waktu—rapuh, nyaris jatuh ke dalam lupa.
Generasi muda hari ini mungkin hanya mengenal Idul Fitri sebagai momen saling berkirim pesan singkat atau unggahan di media sosial. Rantang-rantang yang dulu penuh isi, kini digantikan oleh paket instan atau bahkan sekadar ucapan digital. Praktis, cepat, namun diam-diam mengikis sesuatu yang dulu begitu hangat
MAWAKEUN bukan sekadar aktivitas mengirim makanan. Ia adalah simbol dari hubungan yang dijaga dengan langkah nyata. Ada usaha, ada niat, ada pertemuan. Sesuatu yang kini perlahan tergantikan oleh kemudahan, namun kehilangan kedalaman.
Bukan hanya mawakeun yang meredup. Tradisi lain seperti samenan atau paturay tineung di lingkungan sekolah pun mulai jarang terdengar. Satu per satu, kenangan kolektif masyarakat seperti gugur—tanpa upacara, tanpa perpisahan.
Pertanyaannya bukan sekadar mengapa tradisi itu hilang. Tapi apakah kita menyadari kehilangannya?
Di tengah dunia yang bergerak cepat, barangkali kita lupa bahwa kehangatan tidak pernah lahir dari kepraktisan semata. Ia tumbuh dari kebersamaan, dari waktu yang diluangkan, dari langkah kaki yang rela menempuh jarak
Mawakeun mungkin telah pergi, atau setidaknya menjauh. Namun jejaknya masih tersimpan—di ingatan para orang tua, di cerita yang sesekali muncul, dan di rindu yang sulit dijelaskan
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita merasa dunia terlalu dingin dan terlalu cepat, kita akan kembali mencari. Bukan sekadar makanan dalam rantang, tetapi makna yang dulu pernah kita kirimkan bersamanya.
Wahyu BK
