Deklarasi BOBOKO Distrik Sumedang, Gaungkan Budaya Silih Asah Silih Asih Silih Asuh

Sumedang | Metronasionalnews.com — Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap Persib Bandung terasa kuat dalam Deklarasi Paguyuban BOBOKO (Bobotoh Kolot) Distrik Sumedang yang digelar di Pendopo Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Minggu, 17 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting lahirnya komunitas bobotoh kolot di Kabupaten Sumedang yang ingin menghadirkan warna baru dalam budaya dukungan terhadap Persib Bandung. Mengusung tema “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh”, BOBOKO hadir dengan semangat menjunjung sportivitas, kedewasaan, dan budaya Sunda dalam dunia suporter sepak bola.
Deklarasi itu dihadiri langsung Ketua Paguyuban BOBOKO Pusat Kang Yukie beserta perwakilan distrik dari Bandung Raya, Majalengka, dan Kuningan. Hadir pula sejumlah tamu undangan serta para bobotoh dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumedang.
Dalam sambutannya, pengurus BOBOKO Sumedang menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap terbentuknya paguyuban tersebut.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bupati Sumedang selaku pembina BOBOKO Sumedang yang dinilai telah memberikan motivasi dan fasilitas sehingga kegiatan deklarasi dapat dilaksanakan di lingkungan PPS Sumedang.
Ketua Paguyuban BOBOKO Distrik Sumedang, Hari, mengatakan deklarasi dan pelantikan pengurus bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah awal membangun organisasi bobotoh yang lebih dewasa dan berkarakter.
“Kami berharap BOBOKO Sumedang menjadi pionir dan teladan bagi bobotoh lainnya. Kolot di sini bukan hanya soal usia, tetapi dewasa dalam berbicara, bertingkah, berpikir, dan berorganisasi,” ujarnya.
Menurutnya, budaya Sunda yang mengedepankan silih asah, silih asih, dan silih asuh harus menjadi identitas utama para anggota BOBOKO dalam mendukung Persib Bandung.

Sementara itu, Ketua BOBOKO Pusat, Kang Yukie, mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya deklarasi Distrik Sumedang yang bertepatan dengan pertandingan PSM Makassar melawan Persib Bandung. Dalam kesempatan tersebut, para anggota juga menggelar nonton bareng sebagai bentuk kebersamaan komunitas.
Kang Yukie menegaskan bahwa sejak awal berdiri pada 10 Desember 2025, BOBOKO dibentuk sebagai pengingat agar budaya Sunda tetap hidup di tengah atmosfer sepak bola modern yang dinilai semakin keras dan cenderung terpengaruh budaya luar.
“Kami ingin membawa kembali budaya Sunda ke tribun stadion. Silih asah, silih asih, silih asuh harus tetap dijaga,” katanya.
Ia juga berharap keberadaan BOBOKO dapat menjadi contoh positif bagi komunitas suporter lain dengan mengedepankan dukungan yang santun, tanpa anarkisme, rasisme, maupun penggunaan flare di stadion.
“Harapan kami, tidak ada lagi arogansi di stadion. Tidak ada lagi tindakan anarkis atau rasisme yang mencoreng dunia sepak bola,” ujarnya.
Selain itu, BOBOKO juga berharap dapat menjadi jembatan komunikasi antara suporter dan manajemen Persib, termasuk dalam persoalan distribusi tiket pertandingan yang selama ini sering menjadi keluhan bobotoh.
Lebih jauh, komunitas tersebut ingin menjadi ruang silaturahmi yang mampu menyatukan berbagai komunitas Persib, baik internal maupun eksternal, dalam semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap klub kebanggaan Jawa Barat tersebut.
Deklarasi BOBOKO Sumedang pun menjadi penanda lahirnya gerakan bobotoh yang tidak hanya hadir untuk mendukung tim di lapangan, tetapi juga menjaga nilai budaya, persaudaraan, dan kedewasaan dalam dunia suporter Indonesia.
Wahyu BK
