23 April 2026

Dari Silaturahmi ke Sinergi: Halal Bihalal Kepala Desa Warnai Semangat Baru Sumedang 2026

0

‎Sumedang | Metronasionalnews.com — Di antara jabat tangan yang saling menguatkan dan senyum yang tak sekadar basa-basi, sebuah harapan perlahan disulam. Halal bihalal Kepala Desa se-Kabupaten Sumedang, Kamis (23/04/2026), bukan hanya agenda rutin pasca-Lebaran, melainkan ruang batin tempat komitmen diperbarui dan kebersamaan diteguhkan.

‎Bertempat di Gedung Serba Guna Tegar Beriman, Desa Cikoneng Kulon, Kecamatan Ganeas, pertemuan itu terasa lebih dari sekadar seremonial. Ia menjelma menjadi simpul yang mengikat para pemangku kepentingan—dari desa hingga kabupaten—dalam satu napas pembangunan yang sama.

‎Kehadiran Dony Ahmad Munir bersama M. Fajar Aldila menegaskan bahwa ruang silaturahmi ini bukan sekadar simbol, melainkan pijakan bersama untuk melangkah lebih jauh. Di antara deretan kursi yang terisi para kepala desa, unsur DPRD, kejaksaan, hingga perangkat pemerintah provinsi, terasa satu benang merah: Sumedang dibangun dari kebersamaan

‎Tema “Menuju Sumedang 2026 Membumi, Kadeuleu, Karampa, Karasa” bukan hanya rangkaian kata yang indah didengar. Ia menjadi arah, sekaligus pengingat bahwa pembangunan tak cukup hanya dirancang di atas kertas, tetapi harus benar-benar dirasakan hingga ke akar rumput.

‎Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Sumedang, Welly Sanjaya, menangkap betul makna itu. Baginya, halal bihalal adalah momentum yang menyatukan langkah. Ia melihat desa bukan sekadar bagian dari sistem pemerintahan, melainkan fondasi yang menentukan kokoh tidaknya bangunan besar bernama negara

‎“Ketika desa kuat, maka semuanya akan ikut kuat,” ujarnya, sederhana namun penuh makna

‎Nada yang sama bergema dari Bupati Sumedang. Dalam suasana yang hangat, ia tidak hanya berbicara sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang sama. Permohonan maaf yang disampaikannya kepada para kepala desa terasa tulus—bukan formalitas, melainkan refleksi dari kepemimpinan yang ingin terus berbenah.

‎Baginya, halal bihalal adalah ruang untuk membersihkan hati sekaligus menata ulang arah. Dari sana, ia mengajak semua pihak untuk kembali berpegang pada tiga pilar utama: kolaborasi, pelayanan, dan integritas.

‎Kolaborasi, kata dia, bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pelayanan publik harus hadir dengan wajah yang lebih ramah, cepat, dan efektif. Sementara integritas menjadi fondasi yang tak boleh retak, karena di situlah kepercayaan masyarakat bertumpu.

‎“Tidak akan ada pembangunan yang berhasil tanpa kolaborasi,” tegasnya, seolah mengingatkan bahwa kerja bersama adalah kunci yang tak tergantikan

‎Di balik seluruh rangkaian acara, ada satu gagasan yang terus berulang—bahwa desa adalah titik mula. Kepala desa bukan hanya administrator, tetapi ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat.

‎Maka ketika mereka berkumpul, saling berjabat tangan, dan menyatukan visi, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya hubungan personal, tetapi masa depan Sumedang itu sendiri.

‎Dari Gedung Tegar Beriman di Ganeas, semangat itu mengalir keluar—menyusuri jalan-jalan desa, melintasi hamparan sawah, hingga ke ruang-ruang pelayanan publik. Sebuah energi kebersamaan yang diharapkan tak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjelma menjadi kerja nyata.

‎Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang angka dan program. Ia tentang rasa—tentang hadirnya pemerintah di tengah masyarakat, tentang kepercayaan yang dijaga, dan tentang harapan yang terus dirawat bersama.

Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.