26 Juli 2026

Merawat Warisan Leluhur, Puluhun Warga Dusun Cihonje Bergotong Royong Benahi Drainase Jalan Desa

0


‎Sumedang | Metronasionalnews.com  – Pagi baru saja menyapa ketika langkah demi langkah mulai memenuhi ruas jalan di sekitar bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan, Minggu (26/7/2026). Di tangan mereka tergenggam cangkul, sekop, linggis, ember hingga karung untuk mengangkut tanah. Tak ada aba-aba panjang, tak ada upah yang dijanjikan. Yang hadir hanyalah satu semangat yang diwariskan turun-temurun: gotong royong.

‎Puluhan warga dari tiga RW di Dusun Cihonje berkumpul sejak pagi untuk melaksanakan kerja bakti memperbaiki saluran air atau drainase jalan desa. Mereka menyadari, drainase yang bersih dan berfungsi baik bukan sekadar pelengkap infrastruktur, melainkan urat nadi yang menjaga jalan tetap kokoh dan lingkungan terbebas dari genangan saat musim hujan tiba.

‎Di sela suara cangkul yang membelah tanah, palu yang memukul batu dan tawa yang sesekali pecah di antara warga, tersimpan pesan bahwa membangun desa bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebersamaan yang telah lama menjadi identitas masyarakat pedesaan.

‎Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Gunasari H. Muhtar, unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Bhabinsa, para Ketua RT/RW, serta tokoh masyarakat yang turut membaur bersama warga dalam menyelesaikan pekerjaan.

‎Bagi masyarakat Cihonje, kerja bakti bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah ruang bertemunya kepedulian, tempat perbedaan melebur menjadi kekuatan bersama demi kepentingan yang lebih besar.


‎Kepala Desa Gunasari, H. Muhtar, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup dan menjadi modal utama dalam membangun desa.

‎”Kegiatan kerja bakti ini merupakan wujud nyata semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga dan memperbaiki infrastruktur desa. Saluran air yang berfungsi dengan baik sangat penting untuk mencegah genangan dan kerusakan jalan, terutama saat musim hujan. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga yang telah meluangkan waktu dan tenaga. Semangat kebersamaan seperti inilah yang menjadi kekuatan utama dalam membangun desa,” ujarnya.

‎Menurutnya, pembangunan desa tidak dapat bertumpu sepenuhnya pada anggaran pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi fondasi yang tidak tergantikan dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, dan berkelanjutan.

‎”Pembangunan desa bukan hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tetapi juga lahir dari kepedulian dan kebersamaan masyarakat. Melalui kerja bakti ini, kita membuktikan bahwa budaya gotong royong masih hidup dan menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk mewujudkan desa yang bersih, nyaman, dan maju,” tambah H. Muhtar.

‎Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, gotong royong kerap dikhawatirkan memudar, tergeser oleh gaya hidup yang semakin individualistis. Namun, pemandangan di Dusun Cihonje justru menghadirkan optimisme. Anak muda, orang tua, aparat desa, hingga tokoh masyarakat berdiri di barisan yang sama, menyatukan tenaga tanpa memandang status maupun latar belakang.

‎Kerja bakti hari itu menjadi pengingat bahwa nilai luhur bangsa sesungguhnya masih berakar kuat di tengah masyarakat. Ketika tangan-tangan saling membantu, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan hanya drainase desa, melainkan juga persaudaraan, kepedulian, dan harapan agar semangat gotong royong tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat.

‎Sebab, desa yang maju tidak hanya ditandai oleh jalan yang mulus atau bangunan yang megah. Desa yang sesungguhnya kuat adalah desa yang warganya masih rela meluangkan waktu, menyatukan tenaga, dan bergandengan tangan demi kepentingan bersama. Dari Dusun Cihonje, pesan itu kembali bergema: gotong royong bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan investasi sosial untuk masa depan.



Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.