Malam Maulid di Mesjid Al Bayyinah: Ketika Shalawat Menghangatkan Kampung dan Akhlak Rasulullah Kembali Dikenang

Sumedang | Metronasionalnews.com – 24 Agustus 2026. Malam perlahan turun di Dusun Cihonje, Desa Gunasari. Namun, di tengah suasana malam yang hening, cahaya dan suara dari Masjid Al Bayyinah justru membuat kampung terasa lebih hidup
Dari rumah-rumah warga, langkah kaki menuju masjid terdengar silih berganti. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula warga yang berjalan beriringan. Tujuannya sama: berkumpul untuk mengenang kelahiran manusia mulia, Nabi Muhammad SAW, dalam peringatan Maulid Nabi 1448 Hijriah/2026 Masehi.
Malam itu bukan sekadar rangkaian kegiatan keagamaan.
Ia menjadi ruang untuk kembali mengingat bahwa di tengah kehidupan yang semakin cepat, ada teladan yang tidak pernah kehilangan makna: akhlak Rasulullah SAW.
Rangkaian peringatan diawali dengan shalat Magrib berjamaah, kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Setelah itu, suasana masjid dipenuhi lantunan shalawat Nabi, marhaban dan pembacaan Barzanji.
Suara shalawat yang dilantunkan bersama-sama seakan menghapus sejenak jarak di antara warga.
Yang tua duduk berdampingan dengan yang muda. Anak-anak ikut menyimak. Para jamaah larut dalam lantunan pujian kepada Rasulullah SAW
Di situlah Maulid terasa bukan hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai kesempatan untuk mempererat kembali tali silaturahmi.
Mengingat Rasulullah, Meneladani Akhlaknya
Puncak kegiatan diisi dengan tausiah yang disampaikan Ustadz Emid Aminudin.
Dengan pesan-pesan keagamaan, jamaah diajak memahami kembali hikmah kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari
Sebab mencintai Rasulullah bukan hanya tentang melantunkan shalawat.
Cinta itu semestinya hadir dalam perilaku. Dalam cara berbicara kepada orang tua. Dalam menghormati tetangga. Dalam membantu mereka yang membutuhkan. Dalam menjaga kejujuran. Dan dalam kesediaan untuk tetap berbuat baik meski tidak selalu mendapatkan balasan.
Pesan-pesan tersebut menjadi penting di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah. Keteladanan Rasulullah SAW menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama.
Malam itu, masjid menjadi ruang untuk kembali bercermin.
Sejauh mana akhlak Rasulullah telah hadir dalam kehidupan sehari-hari?
Sejauh mana shalawat yang dilantunkan mampu diterjemahkan menjadi kebaikan setelah jamaah meninggalkan masjid?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat peringatan Maulid tidak berhenti pada seremoni.
Dari Masjid, Menguatkan Kebersamaan Warga
Setelah tausiah dan doa bersama, kegiatan berlanjut dengan ramah tamah.
Warga menikmati hidangan secara bersama-sama dalam suasana penuh keakraban. Tradisi makan bersama dan berbagi berkat menjadi bagian dari rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan masyarakat.
Tidak ada sekat antara satu warga dengan warga lainnya.
Semua duduk dalam suasana sederhana. Saling berbagi makanan. Saling menyapa. Saling mendoakan.
Di tengah kesederhanaan itu, ada sesuatu yang terasa mahal: kebersamaan.
Maulid Nabi di Masjid Al Bayyinah menjadi pengingat bahwa kehidupan bermasyarakat tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui hubungan antarmanusia yang hangat.
Sebuah masjid bukan hanya tempat orang datang untuk menunaikan ibadah.
Ia juga dapat menjadi tempat masyarakat belajar saling menghormati, saling membantu dan menjaga persaudaraan.
Malam semakin larut ketika rangkaian kegiatan berakhir
Namun, barangkali yang dibawa pulang warga bukan hanya rasa kenyang setelah menikmati hidangan bersama.
Ada shalawat yang masih terngiang. Ada pesan agama yang masih teringat. Dan ada harapan agar keteladanan Rasulullah SAW tidak berhenti di dalam masjid.
Sebab memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada akhirnya bukan sekadar mengenang sebuah tanggal dalam sejarah.
Ia adalah usaha untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang beliau wariskan.
Kejujuran, kasih sayang, kesabaran, kepedulian dan akhlak mulia
Dari Masjid Al Bayyinah, Dusun Cihonje, pesan itu kembali digaungkan.
Bahwa semakin jauh zaman berjalan, semakin penting manusia memiliki teladan.
Dan bagi umat Islam, Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan yang tak pernah lekang oleh waktu
Malam Maulid pun berlalu.
Tetapi semoga shalawat tidak berhenti bersama padamnya lampu masjid.
Semoga doa tidak selesai ketika jamaah pulang ke rumah.
Dan semoga akhlak Rasulullah benar-benar tumbuh dalam kehidupan warga—menjadi kebaikan yang sederhana, tetapi terus menyala dari rumah ke rumah, dari keluarga ke keluarga, hingga menjadi cahaya bagi seluruh masyarakat.
Wahyu BK
