Ramadan Hari ke-26: Ketika Masjid Kian Sunyi Menjelang Lailatul Qadar

Sumedang | Metronasionalnews.com – 16 Maret 2026. Langit malam di penghujung Ramadan selalu terasa berbeda. Angin berembus lebih lembut, lampu-lampu masjid tetap menyala, namun langkah kaki yang biasanya memenuhi serambi perlahan berkurang. Saf yang dulu rapat kini mulai renggang. Suara lantunan Al-Qur’an masih terdengar, tetapi tak seramai hari-hari pertama bulan suci.
Fenomena ini bukan hal baru. Di banyak tempat, masjid justru terlihat lebih sepi ketika Ramadan memasuki hari-hari terakhir—termasuk pada malam ke-26, sebuah malam yang berada di jantung pencarian Lailatul Qadar.
Padahal, sepuluh malam terakhir Ramadan dikenal sebagai puncak perjalanan spiritual umat Islam. Rasulullah SAW bahkan memperbanyak ibadah pada malam-malam ini, menghidupkan malam dengan shalat, doa, dan i’tikaf di masjid.
Namun di kehidupan modern yang serba cepat, ritme ibadah sering kali berhadapan dengan kesibukan dunia. Menjelang Idul Fitri, banyak orang mulai disibukkan oleh berbagai persiapan: belanja kebutuhan Lebaran, perjalanan mudik, hingga berbagai urusan keluarga yang menumpuk menjelang hari raya.
Perhatian yang semula terarah pada ibadah perlahan beralih pada hal-hal yang bersifat persiapan fisik.
Selain itu, faktor kelelahan juga kerap menjadi alasan yang tak terelakkan. Setelah hampir sebulan berpuasa dan menjalani berbagai aktivitas, stamina sebagian orang mulai menurun. Ibadah yang di awal Ramadan dijalani dengan penuh semangat perlahan terasa berat di penghujung bulan.
Fenomena ini sering disebut sebagai “masjid musiman”. Pada awal Ramadan, saf tarawih biasanya penuh hingga halaman. Memasuki pertengahan bulan, jumlah jamaah mulai berkurang. Dan ketika Ramadan hampir usai, sebagian masjid bahkan kembali lengang.
Padahal justru pada fase inilah peluang terbesar terbuka.
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah rentang waktu yang diyakini menyimpan Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada malam-malam ganjil: malam ke-21, 23, 25, 27, hingga 29.
Meski malam ke-27 sering dianggap paling kuat sebagai kandidat Lailatul Qadar, malam ke-26 tetap berada dalam lingkaran waktu penuh berkah tersebut. Setiap detik malam di penghujung Ramadan memiliki kemungkinan menjadi pintu rahmat yang terbuka luas.
Karena itulah, i’tikaf—berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah—menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Di masjid-masjid tertentu, terutama yang menyelenggarakan program i’tikaf intensif, suasana justru tetap hidup hingga menjelang sahur. Jamaah duduk bersila membaca Al-Qur’an, berzikir pelan, atau larut dalam doa yang panjang.
Di tempat-tempat itu, malam Ramadan terasa seperti samudra ketenangan.
Ramadan hari ke-26 tahun 2026 ini—yang jatuh sekitar pertengahan Maret—seharusnya menjadi momentum untuk menambah langkah menuju masjid, bukan menguranginya. Sebab semakin dekat Ramadan menuju garis akhir, semakin berharga pula setiap kesempatan untuk beribadah.
Masjid yang sepi bukan sekadar gambaran berkurangnya jamaah. Ia juga menjadi cermin kecil tentang perjuangan manusia menjaga istiqamah.
Sebab Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita mengakhiri.
Dan mungkin, di salah satu malam yang sunyi itu, ketika lampu masjid masih menyala dan doa-doa perlahan terangkat ke langit, Lailatul Qadar sedang menunggu mereka yang tetap setia datang.
Wahyu BK
