Suara Retakan di Tengah Malam, Atap Rumah Warga Sumedang Selatan Ambruk

Sumedang | Metronasionalnews.com – Selasa, 17 Maret 2026. Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang sejak Jumat hingga Sabtu malam menyisakan cerita pilu bagi sebuah keluarga di lingkungan Legok Bungur, RT 01 RW 07, Kelurahan Pesanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan.
Air yang turun tanpa jeda perlahan menggerus kekuatan bangunan rumah milik Desy Yulia. Tak ada tanda mencolok di awal, hanya perubahan kecil yang nyaris tak disadari—lantai yang terasa sedikit turun, dan struktur rumah yang mulai melemah seiring waktu.
Puncaknya terjadi pada Minggu malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, sang suami, Asep Junaedi, tengah menjalani shift malam di salah satu SPBU. Di rumah, Desy bersama dua anaknya merasakan tanda-tanda yang tak biasa
“Awalnya terdengar suara retak,” tutur Desy
Suara itu datang perlahan, namun terus berulang. Rasa cemas membuatnya segera berpindah ke ruangan lain. Kayu dan eternit mulai berjatuhan sedikit demi sedikit, seakan memberi peringatan bahwa bangunan tak lagi kokoh.
Sepanjang malam, Desy tak berani memejamkan mata. Ketakutan akan kemungkinan terburuk membuatnya tetap waspada hingga menjelang waktu sahur. Sekitar pukul 04.30 WIB, ia memutuskan keluar rumah bersama anak-anaknya. Warga sekitar pun mulai berkumpul, menyadari situasi yang kian mengkhawatirkan.
Tak lama berselang, bagian tengah atap rumah itu ambruk sepenuhnya.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat kejadian, hanya Desy dan dua anaknya yang berada di rumah, sementara sang suami masih bekerja.
Pasca kejadian, pihak kelurahan bersama warga setempat bergerak cepat. Gotong royong dilakukan untuk membersihkan puing-puing bangunan yang berserakan. Untuk sementara waktu, atap rumah ditutup menggunakan terpal guna melindungi dari hujan.
Di balik peristiwa tersebut, terselip harapan sederhana dari Desy. Ia berharap ada bantuan dari berbagai pihak untuk memperbaiki rumahnya yang kini tak lagi layak huni
“Saya berharap ada bantuan untuk memperbaiki atap rumah. Kondisi ekonomi keluarga kami sedang tidak stabil,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat berdampak besar pada kondisi hunian warga, terutama bagi mereka yang tinggal di bangunan dengan kondisi terbatas. Di sisi lain, kepedulian dan gotong royong warga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi situasi darurat seperti ini.
Kini, di bawah naungan terpal seadanya, keluarga Desy berusaha bertahan, menunggu harapan yang diharapkan segera datang.
Wahyu BK
