Dari Ruang Kelas ke Realitas: Jejak Mahasiswa FIKES UNSAP di PBL III

Sumedang | Metronasionalnews.com — 22 April 2026. Ada satu fase dalam perjalanan pendidikan yang tak bisa digantikan oleh buku. Ia tak sepenuhnya dapat dijelaskan di ruang kuliah, dan tak cukup dipahami lewat catatan dan presentasi. Fase itu adalah saat ilmu bertemu kenyataan—ketika teori diuji oleh kehidupan yang sesungguhnya.
Momen itu kini dijalani mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKES UNSAP melalui kegiatan PBL III. Sebuah tahapan yang bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan ruang perjumpaan antara pengetahuan dan realitas. Di sanalah, mahasiswa mulai membaca dunia dengan cara yang berbeda—lebih dekat, lebih nyata, dan lebih manusiawi.
Di lingkungan rumah sakit dan sektor industri, mereka tidak lagi hanya mengenal istilah dan konsep. Mereka menyaksikan langsung bagaimana kesehatan menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Dari ruang perawatan hingga lingkungan kerja, dari prosedur hingga praktik, semua menjadi pelajaran yang tak tertulis dalam buku.
Awalnya mungkin canggung. Ada jarak antara teori dan praktik yang terasa nyata. Namun perlahan, pengalaman mengikis keraguan. Mahasiswa mulai memahami bahwa kesehatan masyarakat bukan sekadar angka statistik, melainkan tentang manusia—tentang keselamatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Lebih jauh, PBL III membuka ruang pembelajaran yang lebih luas. Tentang etika profesi yang tak bisa ditawar, tentang tanggung jawab yang harus diemban, dan tentang kenyataan bahwa tidak semua persoalan memiliki jawaban sederhana seperti di ruang kelas. Di sinilah kepekaan dan kepedulian mulai tumbuh, menjadi fondasi penting bagi calon tenaga kesehatan.
Kolaborasi dengan berbagai mitra—baik dari dunia industri maupun fasilitas layanan kesehatan—menjadi jendela baru bagi mahasiswa. Mereka melihat bagaimana sistem bekerja, bagaimana risiko dikelola, dan bagaimana upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup masyarakat.

Dosen pembimbing, Evi Sonjati, S.K.M., M.KM, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan jembatan penting antara teori dan praktik. Mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di lapangan, sekaligus mengasah kemampuan dalam memahami persoalan kesehatan masyarakat secara komprehensif dan menyusun solusi yang aplikatif.
“Kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) III ini menjadi wadah bagi mahasiswa semester VIII pada peminatan Kesehatan Lingkungan dan K3, untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di masyarakat maupun lingkungan kerja”, terangnya.
Lebih lanjut Evi berharap Mahasiswa mampu mengidentifikasi faktor risiko lingkungan serta potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja, sekaligus memberikan edukasi dan solusi yang tepat guna. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbentuk lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap kesehatan lingkungan dan keselamatan kerja.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian dalam proses belajar. Bahwa kesalahan bukan untuk dihindari sepenuhnya, tetapi untuk dipahami sebagai bagian dari perjalanan menuju kompetensi dan integritas sebagai tenaga kesehatan.
Kegiatan PBL III ini dibimbing oleh para dosen, yakni Evi Sonjati, S.K.M., M.KM, Dini Apriani, S.ST., M.Kes, dan Hana Fitria Andayani, S.ST., M.KM, yang turut mengawal proses pembelajaran mahasiswa agar tetap terarah dan bermakna.
Pada akhirnya, PBL III bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Awal dari perjalanan panjang menjadi insan profesional yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap realitas sosial.
Sebab di luar ruang kelas, dunia terus bergerak. Dan di sanalah, ilmu menemukan maknanya—ketika ia mampu hadir, menyentuh, dan menjadi bagian dari solusi bagi kehidupan.
Wahyu BK
