500 Siswa Sumedang Menatap Masa Depan Lewat STEAM Fair 2026

Sumedang | Metronasionalnews.com — Masa depan kadang tumbuh dari hal-hal sederhana: rasa ingin tahu seorang anak, pertanyaan yang tak kunjung selesai, atau sebuah karya kecil yang lahir dari keberanian mencoba.
Suasana itulah yang terasa di Kampus SMP IT Insan Sejahtera Sumedang, Sabtu (24/10/2026). Sebanyak 500 siswa sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Sumedang berkumpul dalam STEAM Fair 2026 dengan mengusung tema “Climate Action, STEAM Innovation”.
Bukan sekadar pameran karya, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara imajinasi anak-anak dan tantangan masa depan. Sains, teknologi, seni, teknik dan matematika dipertemukan dalam cara belajar yang lebih dekat dengan dunia mereka.
STEAM Fair 2026 dibuka Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, H. Dadang Setiawan. Dari ruang kelas menuju stan-stan pameran, para siswa diajak melihat bahwa ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang jauh dan kaku. Ia bisa hadir dalam sebuah permainan, robot, percobaan sains, karya seni, bahkan gagasan sederhana untuk menjawab persoalan lingkungan.
Ketua Pelaksana STEAM Fair 2026, Haerani Wahidah, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk mengenalkan pendekatan STEAM sejak dini.
Lima bidang—Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics—dipadukan menjadi pengalaman belajar yang mendorong anak untuk bertanya, mencoba dan menciptakan sesuatu.
“Melalui kegiatan STEAM Fair ini, kami berharap dapat menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik, terutama anak-anak SD. Kami ingin mengenalkan pembelajaran STEAM sejak dini agar mereka lebih kreatif, inovatif, dan tertarik mengeksplorasi ilmu pengetahuan,” ujar Haerani.

Beragam karya kemudian mengisi ruang pameran. Ada stan STEAM, robotik, sains, permainan edukatif hingga inovasi sosial yang mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Di tangan anak-anak, teknologi tidak semata-mata menjadi alat. Ia menjadi pintu untuk berimajinasi.
Pada saat yang sama, tema perubahan iklim membuat STEAM Fair memiliki pesan yang lebih luas. Anak-anak tidak hanya diajak menjadi pengguna teknologi, tetapi juga diperkenalkan pada persoalan yang dihadapi lingkungan dan pentingnya mencari solusi melalui kreativitas dan pengetahuan.
H. Dadang Setiawan mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, STEAM Fair menjadi sarana pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir siswa, sekaligus membangun komunikasi serta kolaborasi antarpeserta didik.
Sebab pendidikan tidak selalu harus berlangsung di balik papan tulis.
Ada kalanya sebuah gagasan justru lahir ketika anak diberi kesempatan untuk melihat, menyentuh, mencoba, gagal, lalu mencoba kembali. Dari proses itulah keberanian berpikir tumbuh.
STEAM Fair 2026 juga memperlihatkan bahwa pendidikan masa kini semakin membutuhkan ruang bagi kreativitas dan inovasi. Terlebih ketika generasi muda akan berhadapan dengan perubahan teknologi yang bergerak cepat dan persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Lima ratus anak yang hadir mungkin datang dengan karya dan gagasan yang berbeda. Namun, mereka membawa harapan yang sama: belajar lebih jauh tentang dunia dan menemukan cara untuk ikut memperbaikinya.
Di sanalah makna “Climate Action, STEAM Innovation” menemukan ruhnya.
Karena masa depan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari rasa ingin tahu yang dipelihara, ilmu yang terus dicari, keberanian untuk mencoba, dan kepedulian terhadap lingkungan yang ditanamkan sejak dini.
Hari ini mereka belajar. Esok mereka yang menciptakan perubahan.
Wahyu BK
