Jejak Pengabdian Sang Ayah, Mengalir dalam Langkah Imas Juliawati Membangun Situraja

Sumedang | Metronasionalnews.com – 19 Agustus 2026. Ada jejak yang tak selalu terlihat, tetapi terasa dalam setiap langkah.
Bagi Imas Juliawati, Situraja bukan sekadar nama sebuah desa tempat ia dilahirkan dan tumbuh. Desa itu adalah halaman pertama kehidupannya, tempat ia mengenal masyarakat, menyaksikan dinamika pembangunan, sekaligus menyimpan kenangan tentang sosok ayahnya, almarhum Ulis Asmita, yang dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat Desa Situraja.
Dari sosok sang ayah, Imas melihat bahwa pengabdian kepada desa bukan perkara jabatan. Ia adalah tentang kesediaan hadir, mendengar dan ikut memikirkan masa depan masyarakat.
Kini, bertahun-tahun setelah masa pengabdian sang ayah, semangat itu kembali dibawa Imas Juliawati dalam langkahnya mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Situraja periode 2026–2034.
Perempuan kelahiran Situraja, 23 Juli 1976, tersebut datang dengan pengalaman hidup yang cukup panjang. Riwayat pendidikannya ditempuh di SD Negeri Pasirimpun, SMP Negeri 1 Situraja dan SMA Negeri 1 Situraja. Ia juga pernah bekerja di DHL Bandung Soekarno-Hatta pada 1994–1996.
Pengalaman organisasi kemudian menjadi bagian lain dari perjalanan hidupnya. Imas tercatat pernah menjadi Wakil Ketua Srikandi DPP Gardu Prabowo pada 2008–2024, Ketua DPC Gardu Prabowo pada 2008–2016, serta tercatat sebagai anggota Partai Gerindra pada 2009–2019.
Namun, di balik riwayat tersebut, ada satu alasan yang lebih personal: keinginan untuk ikut meneruskan semangat pengabdian yang pernah ditunjukkan ayahnya.
Ketika Pengabdian Menjadi Warisan Nilai
Bagi sebuah desa, pembangunan bukan hanya soal jalan yang semakin baik, pelayanan yang semakin cepat, atau bertambahnya sarana dan prasarana. Lebih jauh dari itu, pembangunan adalah tentang bagaimana masyarakat merasa ikut memiliki dan menjadi bagian dari perubahan.
Semangat itulah yang ingin dikedepankan Imas melalui gagasan yang ia rumuskan dalam visi AMANAH, SIAP, MERATA, INOVATIF, TERPADU, serta ASAH ASIH ASUH
Konsep tersebut menempatkan amanah dan integritas sebagai pijakan dalam menjalankan pemerintahan desa. Pelayanan kepada masyarakat diarahkan agar semakin merata, sementara inovasi dan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menjadi bagian dari tata kelola pemerintahan desa.
Di sisi lain, pembangunan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian. Imas membawa gagasan untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menggali peluang unit usaha baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan desa.
Ada pula perhatian terhadap pembangunan infrastruktur yang diharapkan berjalan secara merata, transparan, akuntabel dan berkelanjutan.

Semua gagasan itu bermuara pada satu kalimat yang menjadi slogan yang ia usung
“Bersama kita sejahtera, sejahtera kita bersama.”
Kalimat tersebut menggambarkan gagasan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari proses perubahan.
Situraja dan Harapan tentang Masa Depan
Situraja memiliki cerita panjang tentang masyarakatnya. Di tengah perubahan zaman, desa dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya dan kebersamaan.
Di titik itulah Imas menempatkan konsep asah, asih, asuh sebagai salah satu bagian dari gagasannya
Bukan hanya bagaimana desa tumbuh secara fisik, tetapi bagaimana hubungan sosial antarwarga tetap terjaga. Bagaimana generasi muda memperoleh ruang untuk berkembang. Bagaimana ekonomi masyarakat bergerak. Dan bagaimana pelayanan pemerintahan hadir lebih dekat dengan kebutuhan warga.
Semangat tersebut sekaligus menjadi upaya menerjemahkan nilai yang diwariskan sang ayah.
Almarhum Ulis Asmita, merupakan tokoh masyarakat yang telah banyak mengabdikan diri bagi perkembangan Desa Situraja. Dari perjalanan sang ayah itulah Imas melihat bahwa kemajuan desa membutuhkan proses panjang, ketekunan dan keterlibatan banyak pihak.
Kini, generasi berikutnya mencoba membawa semangat itu ke dalam konteks zaman yang berbeda.
Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan mengambil nilai baik dari masa lalu untuk menjawab kebutuhan hari ini.
Dari Situraja, untuk Situraja
Perjalanan Imas menuju pencalonan kepala desa pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang dirinya. Ia juga membawa cerita tentang sebuah keluarga yang telah lama hidup bersama denyut kehidupan masyarakat Situraja
Ada harapan agar pembangunan desa berjalan berkelanjutan. Ada keinginan agar pelayanan publik semakin baik. Ada cita-cita agar ekonomi masyarakat berkembang dan potensi lokal dapat dimanfaatkan secara optimal.
Tetapi pada akhirnya, pilihan mengenai arah kepemimpinan desa berada di tangan masyarakat melalui mekanisme pemilihan yang berlaku.
tentang seorang anak yang tumbuh di tengah masyarakat Situraja, melihat pengabdian ayahnya, kemudian memilih untuk ikut mengambil bagian dalam perjalanan masa depan tanah kelahirannya.
Sebab pembangunan desa selalu memiliki banyak tangan yang bekerja
Dan kadang, sebuah cita-cita besar bermula dari sesuatu yang sederhana—rasa cinta kepada tanah kelahiran dan keinginan untuk melihatnya terus tumbuh.
Wahyu BK
