“Hatur Nuhun BAZNAS, Bantosan Tos Katampi ku Ema”

Sumedang | Metronasionalnews.com – 27 Agustus 2026. Kepedulian kepada warga lanjut usia tak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, sebungkus sembako yang datang ke rumah justru terasa begitu berarti bagi mereka yang menjalani hari dalam keterbatasan.
Hal itu terlihat di Desa Serang, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, ketika bantuan sembako dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) diterima oleh salah seorang warga lansia yang membutuhkan.
Bantuan tersebut berawal dari perhatian pemerintah desa terhadap kondisi warganya. Melihat adanya warga lanjut usia yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kepala Desa Serang kemudian menyampaikan kondisi tersebut kepada BAZNAS agar dapat memperoleh bantuan.
Gayung bersambut. Bantuan sembako akhirnya disalurkan kepada warga yang dinilai membutuhkan.
Bagi penerimanya, bantuan tersebut bukan sekadar isi paket yang dibawa pulang. Ada rasa lega, syukur, sekaligus perasaan bahwa masih ada pihak yang memperhatikan kehidupannya.
Dengan suara penuh haru, penerima bantuan menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Hatur nuhun BAZNAS, bantosan tos katampi ku Ema,” ungkapnya.
Kalimat sederhana dalam bahasa Sunda itu seakan menjadi gambaran utuh tentang arti sebuah kepedulian.
Di usia senja, ketika tenaga tak lagi sekuat dahulu dan kebutuhan hidup tetap berjalan, perhatian dari lingkungan sekitar menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Bukan Hanya Sembako, tetapi Rasa Diperhatikan
Kehadiran bantuan bagi warga lansia sesungguhnya memiliki makna yang lebih luas daripada nilai materi.
Ada pesan bahwa mereka tidak dilupakan
Ada kepedulian bahwa di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak, masih ada perhatian kepada mereka yang mungkin sudah tidak mampu bekerja seperti dahulu.
Dalam konteks inilah, sinergi antara pemerintah desa dan BAZNAS menjadi penting. Pemerintah desa memiliki kedekatan dengan masyarakat dan mengetahui kondisi warganya, sementara lembaga seperti BAZNAS memiliki peran dalam menyalurkan zakat dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan sesuai ketentuan.
Ketika keduanya bertemu dalam sebuah kepedulian, bantuan dapat lebih dekat dengan masyarakat yang membutuhkan.
Dan bagi seorang lansia, mungkin yang paling berharga bukan hanya apa yang ada di dalam paket sembako.
Melainkan seseorang datang mengetuk pintu, membawa kabar bahwa masih ada yang peduli.
Menjaga Kepedulian Tetap Menjadi Gerakan Bersama.
Kisah sederhana dari Desa Serang ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial tidak harus menunggu momentum besar.
Ia bisa dimulai dari lingkungan terdekat.
Dari kepala desa yang melihat kondisi warganya. Dari lembaga yang merespons kebutuhan tersebut. Dan dari masyarakat yang terus menjaga semangat berbagi.
Apresiasi layak diberikan kepada pihak-pihak yang terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat, khususnya kelompok lansia dan warga kurang mampu.
Sebab kesejahteraan bukan hanya tentang pembangunan fisik atau angka-angka ekonomi.
Ada manusia yang harus dipastikan tetap merasa dihargai.
Ada orang tua yang membutuhkan uluran tangan.
Dan ada senyum kecil yang muncul ketika bantuan akhirnya sampai di depan pintu rumah.
“Hatur nuhun BAZNAS, bantosan tos katampi ku Ema.”
Sebuah ucapan sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam: bahwa di usia senja, perhatian sekecil apa pun dapat menjadi penguat untuk melanjutkan hari.
Wahyu BK
