PKBM Maharani dan Desa Cijeler Bersinergi Tekan ATS hingga Zero

Sumedang | Metronasionalnews.com – Ada anak-anak yang berhenti sekolah bukan karena tak ingin belajar. Ada yang terhenti oleh keadaan, ekonomi keluarga, persoalan sosial, hingga berbagai alasan yang membuat langkah mereka menjauh dari ruang kelas.
Di tengah kondisi itulah upaya mengembalikan anak-anak usia sekolah ke dunia pendidikan menjadi pekerjaan bersama. Desa Cijeler, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, bersama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Maharani, terus mendorong agar tidak ada anak yang kehilangan haknya untuk memperoleh pendidikan.
Komitmen tersebut salah satunya terlihat dalam kegiatan pemberian bantuan alat tulis sekolah (ATS) dan tas kepada 24 peserta didik PKBM Maharani. Kegiatan yang merupakan bagian dari peningkatan layanan pendidikan tersebut dilaksanakan di GOR Desa Cijeler, Kecamatan Situraja, Selasa (25/8/2026).
Bagi sebagian orang, tas dan alat tulis mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak yang tengah berjuang kembali menempuh pendidikan, bantuan tersebut bisa menjadi penyemangat bahwa masih ada tangan-tangan yang peduli terhadap masa depan mereka.
Kepala PKBM Maharani, Tatang Juwita, S.Sos, didampingi pengurus, menjelaskan bahwa keberadaan PKBM memiliki peran penting dalam penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).
ATS merujuk pada anak usia sekolah yang belum pernah bersekolah, mengalami putus sekolah, atau belum menuntaskan pendidikan dasarnya. Melalui pendidikan nonformal, PKBM memberikan kesempatan kepada mereka untuk kembali belajar melalui program kesetaraan seperti Paket A, Paket B dan Paket C.
Menurut Tatang, penanganan ATS membutuhkan kerja bersama dan tidak cukup hanya mengandalkan lembaga pendidikan. Pemerintah desa, keluarga, masyarakat hingga perangkat kewilayahan harus terlibat untuk menemukan anak-anak yang membutuhkan layanan pendidikan.
Upaya itu pula yang dilakukan di Desa Cijeler. Pemerintah desa bersama PKBM Maharani melakukan penelusuran terhadap anak-anak yang masuk dalam kategori ATS hingga ke tingkat RT dan RW.
Hasilnya, angka ATS di Desa Cijeler berhasil ditekan hingga mencapai zero ATS. Capaian tersebut kemudian mengantarkan PKBM Maharani meraih penghargaan atas kinerja terbaik dalam penyelesaian ATS.

Bukan Sekadar Mengejar Angka
Kepala Desa Cijeler, Haris Munandar, S.Kom., menyampsikan keberhasilan menuju zero ATS bukan semata-mata persoalan mengejar angka atau penghargaan
Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab moral untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan.
“Kami dari Pemerintah Desa Cijeler sangat mendukung program penanganan Anak Tidak Sekolah. Pendidikan merupakan hak setiap anak. Karena itu, kami bersama PKBM Maharani berupaya melakukan pendataan dan penelusuran dari tingkat RT/RW untuk mengetahui kondisi anak-anak yang belum bersekolah maupun yang mengalami putus sekolah,” ujarnya.
Ia mengatakan, ketika ditemukan anak yang tidak bersekolah, pemerintah desa bersama PKBM berupaya mencari akar persoalannya. Sebab, setiap anak memiliki latar belakang dan persoalan yang berbeda. Ada yang terkendala ekonomi, kondisi keluarga maupun persoalan lainnya.
Karena itu, menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak cukup dengan mendata, tetapi juga harus menghadirkan solusi agar anak kembali mendapatkan akses pendidikan.
“Bagi kami, zero ATS bukan hanya sebuah angka atau penghargaan. Yang paling penting adalah tidak ada lagi anak di Desa Cijeler yang kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan. Kalau ada anak yang terkendala ekonomi, kondisi keluarga, atau persoalan lainnya, kita harus bersama-sama mencari solusinya,” katanya.
Pendidikan Tak Boleh Berhenti di Pintu Sekolah
Program penanganan ATS juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumedang menekan angka anak tidak sekolah sekaligus meningkatkan rata-rata lama sekolah.
Di Desa Cijeler, gerakan tersebut dilakukan dengan menyisir lingkungan masyarakat hingga tingkat RT dan RW. Pendekatan dari pintu ke pintu menjadi penting karena persoalan pendidikan sering kali tersembunyi di balik kondisi keluarga yang tidak terlihat dari data administratif semata.
Di sinilah PKBM hadir bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai jembatan bagi anak-anak yang sempat terputus dari pendidikan formal.
Kepala Desa Cijeler berharap keberhasilan zero ATS tidak membuat semua pihak berpuas diri. Sebaliknya, capaian tersebut harus menjadi awal dari komitmen yang lebih panjang untuk menjaga agar anak-anak tetap berada dalam jalur pendidikan.
Zero ATS bukan sekadar pencapaian angka, tetapi komitmen bahwa setiap anak di Desa Cijeler harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Kami berterima kasih kepada PKBM Maharani dan seluruh masyarakat yang bersama-sama menyisir hingga tingkat RT/RW,” pungkasnya.
Wahyu BK
