29 Januari 2026

Dari Tembakau ke Bawang Merah: Harapan yang Disemai di Ngawi

0

Ngawi ||Metronasionalnews- Di sebuah aula sederhana,kami menemui Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Hendro Budi Suryawan, SP.MM pada 3 September 2025 yang menceritakan tentang menyemai harapan baru merangkul petani tembakau beralih ke bawang. Tepat seminggu lalu, para petani dari Paron dan Karangjati berkumpul. Bukan untuk menjual hasil panen tembakau mereka, bukan pula untuk protes atau menuntut subsidi. Mereka hadir untuk menyimak sebuah peluang peluang yang mungkin bisa mengubah arah hidup dan penghasilan mereka.

Baca Juga:Gagalkan Penyelundupan Rokok Ilegal, Kodim 0605/Subang Amankan Ratusan Ribu Bungkus di Tol

Tanggal 26 Agustus lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi menggelar Sosialisasi Pengembangan Diversifikasi Bawang Merah bagi petani tembakau. Kegiatan yang didanai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2025 ini menjadi salah satu upaya konkret pemerintah daerah untuk tidak hanya menanam hasil bumi tetapi juga menanam harapan.

Dalam pertemuan itu, hadir langsung Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Hendro Budi Suryawan, SP.MM. Ia membuka kegiatan dengan nada optimistis, sekaligus realistis.

“Diversifikasi bukan berarti meninggalkan tembakau. Tapi kita ingin petani punya pilihan. Punya alternatif. Dan yang lebih penting: punya penghasilan tambahan,” ujar Hendro di hadapan para petani dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang mendampingi mereka.

Sosialisasi ini bukan sekadar formalitas. Petani tembakau yang hadir juga mendapatkan edukasi teknis mengenai budidaya bawang merah mulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih, hingga penggunaan pupuk yang tepat. Tak hanya teori, bantuan nyata juga dijanjikan: bibit dan pupuk sebagai stimulan awal akan digelontorkan kepada kelompok tani yang siap memulai penanaman Oktober nanti, tepat saat musim labuh datang.

Seorang petani dari Paron, Pak Warno (52), saat saya temui di ladangnya beberapa hari setelah sosialisasi, bercerita dengan mata yang penuh semangat.

“Tembakau itu untung-untungan, Bu. Kadang laku, kadang ndak. Tapi kalau bawang merah, kata penyuluh, pasarnya lebih pasti. Saya pikir, ya kenapa tidak dicoba? Apalagi kalau sudah dibantu bibit dan pupuk,” katanya sambil menunjuk lahan kosong di belakang rumahnya yang sedang ia bersihkan.

Baca Juga:Operasi Pasar,Beacukai Purwakarta Gempur Rokok Ilegal

Di balik setiap batang tembakau, ada cerita tentang keteguhan. Tapi juga ada kerentanan. Harga yang fluktuatif, cuaca yang tak menentu, dan biaya produksi yang tinggi membuat petani semakin bergantung pada ‘nasib baik’. Di situlah letak urgensi program seperti ini membuka pintu keluar dari ketergantungan pada satu komoditas.

“Kami tidak ingin petani hanya bertahan. Kami ingin mereka berkembang,” tegas Hendro saat ditanya tentang arah kebijakan pertanian Ngawi ke depan.

Program ini direncanakan akan difokuskan di dua kecamatan: Karangjati dan Paron, wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra tembakau. Kini, wilayah itu juga disiapkan menjadi titik tumbuhnya bawang merah, dengan harapan tumbuh pula pendapatan dan stabilitas ekonomi keluarga petani.(SGTA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.