Hari Kelima Ramadhan: Saatnya Riyadhoh, Melatih Jiwa di Fase Rahmat

Sumedang | Metronasionalnews.com – 23 Februari 2026. Ramadhan selalu datang dengan wajah yang sama, tetapi menyapa hati dengan rasa yang berbeda. Pada hari kelima bulan suci ini, sebagian dari kita mulai menemukan ritme—bangun lebih dini, menahan lapar dan dahaga, mengatur waktu antara pekerjaan dan ibadah. Namun di balik rutinitas itu, ada ruang sunyi yang sering luput kita isi: ruang untuk benar-benar melatih jiwa.
Riyadhoh bukan sekadar menahan lapar seperti dalam puasa. Ia adalah latihan batin—olah jiwa yang dilakukan dengan kesadaran penuh untuk menyucikan hati, mendisiplinkan diri, serta melawan dorongan hawa nafsu. Tujuannya satu: tazkiyatun nafs, membersihkan diri dari sifat-sifat buruk agar semakin dekat (taqarrub) kepada Allah SWT.
Ramadhan, khususnya pada sepuluh hari pertama yang dikenal sebagai fase rahmat, adalah momentum terbaik untuk memulainya. Dalam fase ini, Allah SWT membuka pintu kasih sayang-Nya selebar-lebarnya. Rahmat bukan hanya soal rezeki atau kemudahan hidup, tetapi juga kelembutan hati, kelapangan dada, dan kemampuan untuk melihat kekurangan diri tanpa merasa terhina.
Imam Al-Ghazali, dalam petuahnya tentang penyucian jiwa, menyebut beberapa metode dasar riyadhoh.
Pertama, uzlah—mengurangi keramaian yang tidak perlu, memberi ruang bagi diri untuk menyepi sejenak. Bukan berarti memutus silaturahmi, tetapi membatasi diri dari hiruk-pikuk yang melalaikan.
Kedua, menjaga lisan. Sedikit bicara, lebih banyak merenung. Di era media sosial, ini menjadi tantangan tersendiri. Terkadang jari lebih cepat daripada hati. Padahal, satu kalimat yang terlepas tanpa kendali bisa melukai lebih dalam daripada luka fisik.
Ketiga, mengurangi tidur dan membiasakan bangun malam. Tahajud di sepertiga malam bukan hanya ritual, tetapi dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya. Dalam keheningan itulah sering kali kita menemukan jawaban yang tak pernah muncul di tengah keramaian siang hari.
Keempat, menahan makan dan minum—yang dalam konteks Ramadhan sudah menjadi kewajiban. Namun riyadhoh mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar menahan diri hingga azan Magrib, melainkan mengendalikan keinginan agar tidak berlebihan saat berbuka.
Amalan-amalan seperti shalat wajib dan sunnah, dhuha, tahajud, dzikir, wirid, istighfar, serta puasa, sejatinya adalah perangkat latihan rohani. Ia bukan rutinitas tanpa makna, melainkan sarana untuk membentuk karakter yang lebih sabar, rendah hati, dan penuh empati.
Riyadhoh berbeda dengan olahraga fisik biasa. Jika olahraga membentuk otot dan stamina, riyadhoh membentuk kesadaran dan kejernihan hati. Ia melatih seseorang untuk tidak mudah tersulut emosi, tidak cepat menghakimi, dan tidak terjebak dalam kesombongan.
Hari kelima Ramadhan bisa menjadi titik refleksi: sudahkah puasa kita naik kelas dari sekadar menahan lapar menjadi latihan jiwa? Sudahkah kita memanfaatkan fase rahmat ini untuk memperbaiki hubungan—bukan hanya dengan Allah, tetapi juga dengan sesama?
Ramadhan tidak pernah menjanjikan bahwa kita akan keluar darinya sebagai manusia sempurna. Namun ia memberi peluang besar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam setiap rasa lapar, ada pengingat tentang keterbatasan. Dalam setiap sujud, ada kesempatan untuk membersihkan noda batin yang mungkin selama ini kita abaikan.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali bising, riyadhoh mengajak kita berjalan pelan. Menyadari napas. Menghitung kesalahan. Mengakui kelemahan. Lalu perlahan memperbaikinya.
Fase rahmat ini tidak berlangsung lama. Sepuluh hari pertama akan berlalu tanpa terasa. Maka mumpung pintu kasih sayang Allah SWT terbuka lebar, mari jadikan hari-hari awal Ramadhan sebagai awal perubahan. Bukan perubahan yang terlihat megah di mata manusia, tetapi perubahan yang terasa dalam hati.
Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang siapa yang paling sibuk beribadah, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh melatih jiwanya.
Dan mungkin, di hari kelima ini, kita bisa mulai dengan satu langkah sederhana: lebih jujur pada diri sendiri, lebih lembut kepada orang lain, dan lebih khusyuk saat menyebut nama-Nya.
Wahyu BK
