Dari Magrib Mengaji ke Dunia Digital, Kisah Yani Fitri Badriah Menginspirasi

Sumedang | Metronasionalnews.com – Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam sebuah momen sederhana yang terekam dalam video Humas Pemerintah Kabupaten Sumedang. Dalam kesempatan itu, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyapa langsung seorang guru ngaji dengan pertanyaan ringan namun menyentuh, “Kumaha perasaanna gaduh ieu?” —bagaimana perasaannya menerima bantuan tersebut.
Dengan wajah sumringah dan penuh syukur, Yani Fitri Badriah menjawab singkat, “Alhamdulillah, bingah.” Ungkapan sederhana itu menggambarkan kebahagiaan yang tulus dari seorang pengajar yang selama ini istiqamah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan agama.
Yani Fitri Badriah diketahui merupakan salah satu pengajar di TPA Jarrul Khoer, Dusun Cihonje, Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan. Ia mendapat apresiasi atas konsistensinya mengikuti program “Magrib Mengaji” yang disiarkan melalui akun Instagram Bupati, sebuah inisiatif dakwah digital yang menjangkau masyarakat luas.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Bupati menyerahkan satu unit laptop kepada Yani. Bantuan ini diharapkan dapat menunjang aktivitas dakwah digital yang selama ini dijalankannya, sekaligus membuka peluang lebih luas dalam menyebarkan nilai-nilai keagamaan di era teknologi.
Program Magrib Mengaji sendiri menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam menghidupkan kembali tradisi belajar agama di tengah masyarakat, dengan memanfaatkan platform digital agar lebih mudah diakses oleh generasi muda.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat berjalan harmonis. Di satu sisi, pemerintah hadir memberikan fasilitas dan dukungan. Di sisi lain, masyarakat—melalui sosok seperti Yani—menjadi penggerak utama dalam menjaga nilai-nilai spiritual tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kehadiran teknologi dalam dunia dakwah pun kini menjadi keniscayaan. Tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu, pesan-pesan kebaikan dapat menjangkau lebih banyak orang melalui media sosial. Dukungan seperti yang diberikan kepada Yani menjadi simbol bahwa dakwah tidak hanya tentang konten, tetapi juga tentang keberlanjutan dan inovasi.
Lebih dari sekadar bantuan, momen ini menjadi pengingat bahwa dedikasi yang dilakukan dengan tulus tidak pernah luput dari perhatian. Dan bagi Yani, kebahagiaan itu cukup diwakili oleh satu kata sederhana: bingah—bahagia.
Di tengah dinamika kehidupan modern, kisah ini menghadirkan secercah harapan bahwa nilai-nilai kebaikan akan selalu menemukan jalannya, selama ada mereka yang setia menjaganya.
Wahyu BK
