Ketika Imajinasi Anak Berbicara: SDN Baginda 1 Bersinar di FLS3N 2026

Sumedang | Metronasionalnews.com – Pagi itu, ruang-ruang di Gedung Create Sumedang, SDN Sukasirna 1, dan SDN Sukasirna 2 dipenuhi riuh yang berbeda. Bukan hiruk-pikuk biasa, melainkan getar semangat dari ratusan anak-anak yang membawa mimpi mereka dalam bentuk nada, warna, dan cerita.
Sebanyak 329 peserta dari berbagai Sekolah Dasar se-Kecamatan Sumedang Selatan ambil bagian dalam Festival Lomba Seni dan Satra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SD tahun 2026 yang digelar pada Kamis (16/4/2026). Mereka datang bukan sekadar untuk berlomba, tetapi untuk mengekspresikan diri—menyampaikan isi hati melalui seni yang jujur dan polos.
Di tiga lokasi berbeda itu, panggung-panggung kecil menjelma menjadi ruang besar bagi imajinasi. Ada yang berbicara tanpa kata melalui pantomim, ada yang menari lewat goresan warna di atas kertas, ada pula yang merangkai cerita dan melodi dengan penuh penghayatan. Setiap karya seolah menjadi bahasa yang tak terucap, namun mudah dipahami.
FLS3N tahun ini menghadirkan sejumlah cabang lomba, mulai dari pantomim, menggambar bercerita, seni vokal, hingga mengarang cerita dan kriya. Seluruhnya mengikuti standar dan regulasi nasional, namun tetap memberi ruang luas bagi kreativitas anak-anak.
Di antara gemuruh kreativitas itu, SDN Baginda 1 tampil menonjol dan berhasil menyabet gelar juara umum. Sekolah ini menjadi satu-satunya yang meraih dua medali emas—sebuah capaian yang tak hanya membanggakan, tetapi juga menginspirasi.
Dua emas tersebut dipersembahkan oleh Zhafira, yang meraih juara pertama lomba gambar bercerita, serta Almaira, yang unggul di cabang kriya anyam dengan karya unik berupa wayang dari kulit batang pisang kering. Karya mereka bukan sekadar hasil lomba, tetapi cerminan ketekunan dan keberanian untuk berkarya.

Kepala SDN Baginda 1, Hj. Mujariah, S.Pd.I., M.Pd, menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa prestasi ini adalah buah dari kerja keras, disiplin, serta semangat pantang menyerah yang ditanamkan sejak dini.
“Ini bukan hanya kemenangan, tetapi hasil dari proses panjang. Terima kasih kepada para guru yang membimbing dengan sepenuh hati, dan kepada anak-anak yang telah berjuang dengan luar biasa,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kompetisi, FLS3N menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda. Di sanalah mereka belajar tentang keberanian tampil, menerima hasil, serta menghargai proses. Kemenangan menjadi indah, tetapi perjalanan menuju ke sana jauh lebih bermakna.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa seni tetap memiliki tempat penting dalam membentuk karakter. Ia mengajarkan kepekaan, kesabaran, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Ketika hari beranjak siang dan satu per satu pemenang diumumkan, yang tersisa bukan hanya piala atau medali. Ada kebanggaan di mata para guru, haru di wajah orang tua, dan mimpi baru di hati anak-anak.
Dan dari sudut kecil di Sumedang Selatan, harapan itu tumbuh—pelan tapi pasti—menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu berkarya dan membanggakan.
Wahyu BK
