16 April 2026

Observasi hingga Supervisi: Sentuhan Berbeda Kepala SDN Sukamulya

0

‎Sumedang | Metronasionalnews.com – Suasana ruang kerja di SDN Sukamulya, Kamis (16/4/2026), tampak berbeda dari biasanya. Di balik meja yang tertata rapi, lembar demi lembar dokumen dibuka, diperiksa, lalu dicatat dengan cermat. Namun ada sesuatu yang tak biasa—cara kerja yang terstruktur, tetapi dibalut dengan gaya yang nyentrik”.

‎Di sekolah yang beralamat di Jalan Bojongtotor, Desa Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara itu, Kepala Sekolah Hj. Renny Oktavianny R., S.Pd., M.M., tengah melaksanakan kegiatan observasi praktik kerja sekaligus supervisi. Bagi sebagian orang, agenda ini mungkin terdengar rutin. Tapi di tangan Hj. Renny, kegiatan ini menjadi ruang interaksi yang lebih hidup, tidak kaku, dan justru terasa membumi

‎Dengan balutan busana sederhana dan sikap yang tenang, ia terlihat menyimak dokumen yang dipegangnya, sesekali berdiskusi dengan rekan kerja di hadapannya. Laptop terbuka, catatan tersusun, dan komunikasi berjalan dua arah—menciptakan suasana kerja yang tidak hanya formal, tetapi juga hangat.

‎“Rapi tapi nyentrik,” begitu sebagian guru menggambarkan gaya kepemimpinannya. Nyentrik yang dimaksud bukan tanpa arah. Justru di situlah letak kekuatannya—menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam menjaga kualitas pendidikan. Supervisi tidak lagi sekadar formalitas atau penilaian administratif, melainkan menjadi sarana refleksi bersama.

‎Hj. Renny memahami bahwa kualitas sekolah tidak hanya dibangun dari aturan, tetapi juga dari hubungan yang terjalin di dalamnya. Karena itu, ia memilih pendekatan yang lebih komunikatif—mengajak guru untuk berdiskusi, membuka ruang masukan, dan bersama-sama mencari solusi atas tantangan yang dihadapi di lapangan.

‎Di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang, langkah seperti ini menjadi penting. Observasi tidak lagi dipandang sebagai “penilaian dari atas”, melainkan sebagai proses belajar bersama

‎SDN Sukamulya sendiri perlahan menunjukkan wajahnya sebagai sekolah yang terus berbenah. Tidak hanya dari sisi administrasi, tetapi juga dari budaya kerja yang mulai terbentuk—lebih terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan.

‎Bagi Hj. Renny, supervisi bukan tentang mencari kekurangan, tetapi menemukan potensi. Dan di ruang sederhana itu, di antara dokumen dan percakapan ringan, tampak jelas satu hal: bahwa pendidikan yang baik tidak selalu harus kaku. Kadang, justru dari sentuhan yang “nyentrik”, lahir pendekatan yang lebih manusiawi—yang bukan hanya membangun sistem, tetapi juga menguatkan orang-orang di dalamnya.

Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.