25 September 2026

Ateng Sutisna Soroti Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia dan Pelemahan Rupiah terhadap Beban Fiskal Negara

0

JAKARTA, 15 Juni 2026 – Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, MBA, mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kondisi fiskal nasional. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi meningkatkan beban anggaran negara, terutama dalam menjaga stabilitas tarif listrik dan harga LPG bersubsidi bagi masyarakat.

Ateng Sutisna menjelaskan bahwa asumsi dasar dalam APBN 2026 disusun dengan memperhitungkan harga minyak dunia sebesar US$70 per barel dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp14.800 per dolar Amerika Serikat. Namun dalam perkembangannya, harga minyak dunia sempat melonjak hingga menyentuh US$117 per barel, sementara nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai Rp18.208 per dolar AS, jauh di atas asumsi yang digunakan dalam penyusunan anggaran.

Baca Juga:TRUK TANGKI BBM TERBAKAR DI RUAS TOL CISUMDAWU, TIDAK ADA KORBAN JIWA

“Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green di tengah lonjakan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah perlu menjadi perhatian serius. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor transportasi, tetapi juga berpotensi menambah tekanan fiskal negara dalam menjaga tarif listrik dan harga LPG bersubsidi tetap terjangkau bagi masyarakat,” ujar Ateng Sutisna.

Menurutnya, kenaikan biaya energi global secara langsung berpengaruh terhadap biaya pembangkitan listrik nasional dan kebutuhan impor LPG yang masih cukup besar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi yang harus ditanggung pemerintah apabila ingin menjaga daya beli masyarakat.

Ateng menegaskan bahwa perlindungan terhadap daya beli masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global, kebijakan subsidi harus dikelola secara tepat sasaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, ia mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan efisiensi sektor energi nasional, memperkuat ketahanan energi dalam negeri, serta mempercepat upaya diversifikasi sumber energi guna mengurangi ketergantungan terhadap gejolak harga energi internasional.

“Pengelolaan subsidi yang tepat sasaran, efisiensi sektor energi, serta penguatan ketahanan energi nasional merupakan langkah penting agar tarif listrik dan harga LPG bersubsidi tetap stabil tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan,” tegasnya.

Ateng Sutisna berharap pemerintah dapat terus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan fiskal negara dan perlindungan terhadap masyarakat, sehingga gejolak harga energi global tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan rakyat maupun stabilitas ekonomi nasional.

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.