Bupati Dony: Smart City Bukan Sekadar Canggih, Tapi Harus Kadeuleu, Karampa dan Karasa oleh Masyarakat

Sumedang | Metronasionalnews.com – Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir membawa pesan kuat tentang makna smart city dalam ASEAN Smart City Network (ASCN) Forum 2026 yang berlangsung di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Di hadapan para pimpinan daerah, praktisi dan pemangku kepentingan pengembangan kota cerdas, Dony menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap kesejahteraan masyarakat.
“Bagi kami, digitalisasi ini adalah instrumen. Tujuannya tetap kesejahteraan rakyat,” kata Dony.
Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya membangun aplikasi. Transformasi digital harus mampu mengubah cara birokrasi bekerja dan menghadirkan pelayanan publik yang mudah, murah serta cepat.
Ia mencontohkan perubahan layanan administrasi kependudukan di Sumedang. Jika sebelumnya masyarakat membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan dokumen, kini sejumlah layanan dapat diselesaikan secara digital dan dokumen dikirim langsung kepada masyarakat.
“Dulu bisa enam bulan lebih lama. Sekarang untuk akta dan KTP maksimal tiga hari, bahkan dokumen bisa dikirim melalui WhatsApp,” ujarnya.
Transformasi tersebut juga diterapkan hingga tingkat desa. Pemerintahan desa telah didukung jaringan fiber optik, e-office dan layanan administrasi elektronik.
Bupati Dony juga memperkenalkan WA Kepo, layanan chatbot yang memungkinkan masyarakat mengakses berbagai layanan dan informasi pemerintahan hanya melalui WhatsApp.
Tak berhenti pada pelayanan publik, digitalisasi digunakan untuk memastikan kebijakan pemerintah benar-benar berbasis kondisi di lapangan.

Dalam penanganan stunting, misalnya, Sumedang memanfaatkan SIM-4T untuk memetakan persoalan secara lebih detail. Pemerintah dapat mengetahui siapa yang membutuhkan intervensi, di mana lokasinya, serta faktor yang menjadi penyebabnya.
“Kalau penyebabnya sanitasi, intervensinya sanitasi. Kalau karena masalah kesehatan, intervensinya kesehatan. Jadi keputusan tidak lagi berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan data,” jelas Dony.
Konsep serupa diterapkan dalam pengawasan pemerintahan. Melalui sistem digital, kinerja perangkat daerah dapat dipantau dan dievaluasi secara berkala.
Ia bahkan mendorong digitalisasi menjadi bagian dari budaya kerja ASN, termasuk pemantauan kinerja dan aktivitas pemerintahan melalui dashboard elektronik.
Menurutnya, digitalisasi juga harus mampu membangun kepercayaan masyarakat. Karena itu, transparansi menjadi salah satu bagian penting dalam konsep smart government Sumedang.
“Bagaimana masyarakat juga bisa mengetahui tata kelola pemerintahan. Itulah bagian dari smart city,” katanya.
Ke depan, Sumedang akan memperkuat integrasi aplikasi, pemanfaatan AI dan big data, serta pengembangan kawasan Jatinangor sebagai City of Digital Knowledge.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga terus diperkuat, termasuk untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi serta kecerdasan buatan.
Bupati Dony menilai forum ASCN menjadi ruang penting bagi daerah untuk saling belajar dan berkolaborasi.
“ASCN memberikan inspirasi, pertukaran pengetahuan dua arah, serta membuka akses kemitraan dan pendanaan,” ujarnya.
Ia pun menutup paparannya dengan filosofi yang menjadi ruh transformasi digital Sumedang: Sumedang Membumi.
“Smart city bukan yang paling canggih, melainkan yang paling terasa sampai ke desa. Karasa, terlihat, terlaksana dan terasa oleh masyarakat,” pungkasnya.
Wahyu BK
