24 Agustus 2026

Di Balik Kelulusan Sidang, Ada Doa untuk Ayah, Ibu dan Kakak yang Membuat Perjalanan Itu Berarti

0

‎Sumedang | Metronasionalnews.com – 24 Agustus 2026. Ada momen ketika sebuah kata lulus terdengar jauh lebih besar daripada sekadar hasil sebuah ujian

‎Di balik kelulusan sidang skripsi seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sebelas April (FIKES UNSAP), tersimpan perjalanan panjang yang tidak hanya dilalui seorang mahasiswa. Ada orang tua yang ikut menahan cemas, ada keluarga yang memberikan semangat, dan ada doa-doa yang diam-diam mengiringi setiap langkah hingga akhirnya tiba di ruang sidang.

‎Bagi sang mahasiswa, menyelesaikan skripsi mungkin menjadi akhir dari sebuah kewajiban akademik. Namun bagi kedua orang tuanya, momen itu terasa seperti lunasnya sebuah penantian.

‎Bertahun-tahun mereka menyaksikan anaknya berjuang menyelesaikan pendidikan. Malam-malam panjang, revisi yang tak kunjung selesai, tekanan menyusun penelitian, hingga rasa lelah dan stres menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilewati.

‎Kini, semua itu menemukan jawabannya

Sidang skripsi telah selesai.

‎Dan di balik kebahagiaan tersebut, ada satu bagian dari skripsi yang justru terasa lebih menyentuh daripada lembar-lembar akademiknya

Bukan teori.

Bukan hasil penelitian.

‎Melainkan halaman motto dan persembahan.

‎Dalam skripsinya, sang anak tidak hanya menyampaikan penghargaan kepada dosen pembimbing, tetapi menempatkan kedua orang tua dan kakaknya dalam ruang yang sangat personal.

‎Untuk sang ibu, Mamah Wati, ia menuliskan rasa terima kasih kepada sosok yang disebutnya sebagai cinta pertama. Seorang ibu yang disebut terus berusaha agar anak laki-lakinya dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya, meskipun sang ibu sendiri tidak pernah merasakan pendidikan hingga bangku perkuliahan.

Doanya sederhana, tetapi dalam

‎Ia berharap sang ibu senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan dan umur panjang.

‎Sementara untuk sang ayah, Bapa Wahyu ungkapan terima kasih itu terasa seperti penghormatan kepada seseorang yang selama ini menjadi bagian penting dari perjuangannya.

‎Sang ayah disebut sebagai sosok yang berjuang tanpa mengenal lelah demi masa depannya. Doa, kasih sayang, pengorbanan, kerja keras dan dukungan sang ayah menjadi motivasi terbesar baginya untuk menyelesaikan pendidikan.

‎Ada satu kalimat dalam motto skripsinya yang seakan merangkum seluruh perjalanan tersebut:

‎“Aku membahayakan nyawa ibu untuk lahir ke dunia, jadi tidak mungkin aku tidak ada artinya, dan aku membuat ayahku bekerja tiap hari hingga lelah, jadi aku pastikan lelahnya tidak sia-sia.”

‎Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata.

‎Ia seperti sebuah janji seorang anak kepada orang tuanya.

‎Bahwa pengorbanan seorang ibu ketika melahirkannya tidak akan dilupakan. Bahwa setiap tetes keringat seorang ayah yang bekerja untuk masa depannya harus memiliki arti.

Dan hari kelulusan sidang menjadi salah satu jawaban dari janji tersebut

Bukan Hanya Tentang Anak, Tetapi Juga Tentang Orang Tua

‎Momen kelulusan sering kali dilihat sebagai keberhasilan mahasiswa.

‎Namun sesungguhnya, ada keberhasilan orang tua di dalamnya.

‎Ada biaya yang dikeluarkan sedikit demi sedikit. Ada kebutuhan kuliah yang harus dipenuhi. Ada waktu dan tenaga yang dikorbankan. Ada kecemasan ketika anak menghadapi kesulitan. Dan yang paling tidak terlihat, ada doa yang terus dipanjatkan agar perjalanan pendidikan sang anak berjalan lancar.

‎Karena itu, ketika seorang anak akhirnya berdiri setelah menyelesaikan sidang, kebahagiaan tersebut tidak berhenti pada dirinya.

‎Orang tua ikut merasakan lega.

‎Beban yang selama ini dipikul perlahan terangkat.

‎Harapan yang pernah terlihat jauh mulai mendekat.

‎Dan sebuah perjalanan panjang akhirnya sampai pada satu titik yang membahagiakan.

‎Lebih mengharukan lagi, sang anak juga secara khusus menuliskan persembahan untuk kakaknya, Rama Aulia Jamaludin.

‎Ia menyampaikan terima kasih atas doa, dukungan dan semangat yang diberikan selama menempuh pendidikan. Sang kakak disebut sebagai sosok yang peduli dan selalu mengingatkan dirinya untuk terus berusaha menyelesaikan apa yang telah dimulai.

‎Di sinilah halaman persembahan itu terasa bukan sekadar bagian formal dari sebuah skripsi.

‎Ia menjadi potret kecil sebuah keluarga.

‎Ada ibu yang menjadi sumber doa.

‎Ada ayah yang menjadi simbol pengorbanan.

‎Ada kakak yang menjadi tempat mendapatkan dukungan.

‎Dan ada seorang anak yang berusaha membalas semuanya dengan satu pencapaian: menyelesaikan pendidikan.

‎Dosen Membimbing, Keluarga Menguatkan

‎Dalam skripsi tersebut, apresiasi juga diberikan kepada para dosen pembimbing, Ibu Evi Sonjati, S.KM., M.KM. dan Ibu Ely Walimah, S.KM., M.Si.

‎Bimbingan, ilmu, arahan, motivasi, kritik dan saran mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan penyelesaian tugas akhir.

Sang penulis menyadari bahwa keberhasilan menyelesaikan skripsi tidak mungkin dicapai sendirian.

‎Ada dosen yang membimbing dari sisi akademik.

‎Ada teman dan sahabat yang menemani perjalanan.

‎Tetapi ada keluarga yang memberikan alasan mengapa perjuangan itu harus diselesaikan

‎Dan mungkin, di situlah letak makna paling dalam dari sebuah kelulusan.

‎Dosen membantu menunjukkan jalan. Keluarga memberikan alasan untuk terus berjalan

‎Ketika sidang akhirnya dinyatakan selesai, rasa lega yang muncul bukan hanya karena revisi telah berakhir atau skripsi telah selesai.

‎Ada kebahagiaan karena sebuah amanah kepada orang tua perlahan telah ditunaikan

‎Bagi keluarga sederhana sekalipun, gelar sarjana bukan sekadar selembar ijazah.

‎Ia adalah simbol bahwa perjuangan mereka selama bertahun-tahun tidak sia-sia.

Sang anak mungkin yang menjalani kuliah.

‎Ia yang menyusun penelitian.

‎Ia yang menghadapi dosen penguji.

‎Ia yang mempertahankan skripsi di ruang sidang.

‎Namun di belakangnya ada ayah dan ibu yang ikut berjuang dengan cara mereka sendiri.

‎Maka ketika hari itu tiba, air mata orang tua bukanlah air mata kesedihan.

‎Itu adalah air mata yang lahir dari perjalanan panjang.

‎Air mata yang membawa rasa syukur.

‎Air mata yang berkata tanpa suara:

‎“Akhirnya, perjuangan kita sampai juga di sini.”

‎Dan kelak, ketika sang anak memasuki dunia kerja, melangkah menuju karier, atau melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, satu hal mungkin akan selalu melekat dalam ingatannya

‎Bahwa sebelum ia memiliki gelar, ia memiliki orang tua yang percaya kepadanya.

‎Sebelum ia mengenal dunia kampus, ia memiliki rumah sebagai tempat pulang.

‎Dan sebelum ia mampu berdiri sendiri, ada ayah, ibu dan kakak yang selalu membantu menopang langkahnya.

‎Sebab sebuah gelar sarjana mungkin tertulis atas nama seorang anak, tetapi di balik nama itu ada begitu banyak nama lain yang ikut berjuang.

‎Ada nama ibu.

‎Ada nama ayah.

‎Ada nama kakak

‎Dan ada doa-doa keluarga yang tidak pernah tercetak dalam ijazah, tetapi justru menjadi bagian paling berharga dari perjalanan menuju keberhasilan.

Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2025 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.