Ketika Desa Menulis Masa Depan: Kisah Perpustakaan Margalaksana dari Sumedang ke Provinsi

Sumedang | Metronasionalnews.com – Ada desa yang membangun jalan agar kendaraan mudah melintas. Ada pula desa yang membangun jembatan agar dua wilayah saling terhubung. Namun Desa Margalaksana Kecamatan Sumedang Selatan Kab. Sumedang memilih membangun sesuatu yang lebih panjang usianya: budaya literasi.
Dari sebuah perpustakaan desa yang tumbuh bersama masyarakat, lahirlah cerita yang kini tak lagi hanya menjadi milik Margalaksana. Cerita itu menjelma inspirasi bagi desa-desa lain, bahkan mulai menembus panggung Provinsi Jawa Barat.
Kisah itulah yang akan dibagikan dalam Live Interaktif Literasi (LITERA) yang diselenggarakan Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Sumedang pada Jumat, 3 Juli 2026, pukul 10.00–11.00 WIB, melalui siaran langsung Instagram @disarpus_smd, @dessa_margalaksana, dan @__putriwardha
Mengusung tema “Dari Desa Berprestasi Menuju Provinsi: Rahasia Sukses Perpustakaan Desa Margalaksana dan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”, kegiatan ini menghadirkan Kepala Desa Margalaksana Euis Mulyati bersama Pengelola Perpustakaan Desa Kang Mulyana. Hadir pula sebagai bintang tamu Putri Wardhany, Pelatih Ahli Nasional Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS)
Namun sesungguhnya, forum ini bukan sekadar membahas rak buku, koleksi bacaan, atau administrasi perpustakaan. Yang dibicarakan adalah bagaimana sebuah ruang membaca mampu berubah menjadi ruang bertumbuh bagi masyarakat.
Perpustakaan hari ini tidak lagi identik dengan bangunan sunyi yang dipenuhi deretan buku. Ia telah menjelma menjadi tempat masyarakat belajar keterampilan, berdiskusi, berwirausaha, hingga menemukan harapan baru. Di situlah makna inklusi sosial benar-benar hidup.
Prestasi Perpustakaan Desa Margalaksana sebagai Juara Lomba Perpustakaan Desa Tingkat Kabupaten Sumedang Tahun 2026 menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak lahir dari kemegahan gedung semata, melainkan dari konsistensi menghadirkan manfaat bagi warga.
Di balik penghargaan itu tersimpan kerja panjang: membangun kolaborasi antara pemerintah desa, pengelola perpustakaan, komunitas, hingga masyarakat yang menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kepala Desa Margalaksana, Euis Mulyati, menjadi salah satu figur yang mendorong lahirnya ekosistem literasi tersebut. Sementara Kang Mulyana, sebagai pengelola perpustakaan, menghadirkan inovasi yang membuat perpustakaan tidak sekadar dikunjungi, tetapi dirasakan manfaatnya oleh berbagai kalangan
Kehadiran Putri Wardhany pun memberi warna tersendiri. Sebagai pelatih ahli nasional TPBIS, ia akan memperkaya diskusi dengan pengalaman tentang bagaimana perpustakaan desa dapat menjadi motor penggerak pembangunan berbasis masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca huruf. Literasi adalah kemampuan membaca kehidupan, memahami perubahan, lalu mengambil peran di dalamnya.
Karena itu, keberhasilan Margalaksana bukan hanya tentang menjadi juara. Lebih dari itu, desa ini sedang menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Kadang, ia tumbuh pelan dari sebuah desa yang percaya bahwa buku, pengetahuan, dan semangat berbagi mampu mengubah masa depan.
LITERA pun menjadi panggung untuk menyampaikan satu pesan sederhana namun bermakna: ketika perpustakaan hidup bersama masyarakat, maka desa bukan hanya menjadi tempat tinggal, melainkan ruang yang melahirkan peradaban.
Wahyu BK
