SMART AQUACULTURE, Teknologi Tepat Guna berbasis IoT untuk POKDAKAN Tirta Mukti Desa Baginda

Sumedang | Metronasionalnews. – 9 Agustus 2026. Pengelolaan budidaya ikan nila bioflok di Desa Baginda mulai diarahkan menuju sistem yang lebih terukur dan berbasis data. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sangga Buana, POKDAKAN Tirta Mukti Baginda mendapatkan penguatan teknologi, standardisasi operasional, serta pendampingan manajemen usaha.
Program tersebut mengangkat judul “Penguatan dan Replikasi Smart Aquaculture IoT Bioflok melalui Standardisasi SOP, Pelatihan Multisiklus, dan Pengembangan Usaha Pokdakan Nila Desa Baginda.”
Kegiatan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026
Tim pelaksana diketuai oleh Muhamad Nurdin Abdul Muhaemin, dosen Program Studi Teknik Informatika Universitas Sangga Buana, dengan anggota Edwar Julistina Ramdon dari Program Studi Teknik Informatika dan Sri Wahyuni dari Program Studi Akuntansi. Dua mahasiswa, yaitu Reyhan Reginald Muammar dan Aulya Putri Nur Hidayat, turut terlibat dalam pendampingan teknis, pencatatan, pengolahan data, dan dokumentasi kegiatan.
Program ini berangkat dari kondisi bahwa budidaya ikan pada tingkat kelompok masyarakat umumnya masih mengandalkan pengalaman masing-masing pembudidaya. Pengalaman tersebut tetap penting, tetapi perlu diperkuat dengan prosedur yang seragam dan pencatatan yang konsisten agar keputusan budidaya dapat dievaluasi secara objektif.
Ketua tim pelaksana, Muhamad Nurdin Abdul Muhaemin, mengatakan bahwa teknologi yang diterapkan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengalaman pembudidaya. Teknologi digunakan untuk memperkuat ketepatan pengambilan keputusan.
“Pembudidaya sudah memiliki pengalaman lapangan. Tugas kami adalah membantu mengubah pengalaman tersebut menjadi sistem kerja yang lebih terstandar dan dapat diukur. Ketika data kualitas air, pakan, mortalitas, pertumbuhan, dan biaya dicatat secara konsisten, kelompok dapat mengetahui tindakan mana yang efektif dan bagian mana yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Salah satu teknologi utama yang diterapkan adalah sistem Smart Aquaculture berbasis Internet of Things. Perangkat tersebut digunakan untuk membantu memantau pH, suhu, oksigen terlarut, dan total padatan terlarut pada air kolam. Data dikirimkan ke dashboard sehingga operator dapat melihat perkembangan kondisi air dan mendeteksi penyimpangan lebih awal.
Teknologi juga dilengkapi auto-feeder untuk membantu menjaga konsistensi waktu dan jumlah pemberian pakan. Sistem ini tetap menyediakan mode manual sebagai pengendalian cadangan apabila terjadi gangguan perangkat, listrik, atau konektivitas.
Penerapan teknologi tersebut didukung dengan penyusunan paket Standar Operasional Prosedur. Pada aspek produksi, SOP mengatur persiapan kolam dan pembentukan bioflok, penebaran benih, pemberian pakan, monitoring kualitas air, tindakan korektif, pengelolaan aerasi, biosecurity, sampling pertumbuhan, pemeliharaan perangkat, hingga panen dan evaluasi siklus.
Sementara itu, pada aspek manajemen usaha, SOP disusun untuk mengatur rencana produksi dan anggaran, pencatatan transaksi, pembelian dan penerimaan barang, persediaan pakan, perhitungan harga pokok produksi, penjualan, evaluasi kinerja usaha, serta pengelolaan Unit Layanan Smart Aquaculture.
“Persoalan budidaya tidak hanya berada di kolam. Produksi yang baik harus diikuti pencatatan biaya dan penjualan yang baik. Kelompok perlu mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan, berapa harga pokok produksi per kilogram, dan berapa margin yang diperoleh dalam setiap siklus,” tambah Muhamad Nurdin.
Untuk memastikan SOP benar-benar diterapkan, mitra menggunakan sejumlah logsheet operasional. Pencatatan meliputi kualitas air, pakan, mortalitas, kesehatan ikan, pertumbuhan, biomassa, pemeliharaan perangkat, kejadian operasional, produksi, panen, dan keuangan usaha
Kepatuhan pengisian logsheet ditargetkan mencapai minimal 80 persen dari hari atau kegiatan yang seharusnya dicatat. Data tersebut selanjutnya digunakan untuk menghitung dan membandingkan indikator produksi, seperti feed conversion ratio, survival rate, biomassa panen, serta perkembangan bobot ikan

Ketua POKDAKAN Tirta Mukti Baginda, Jerry Herdianto, menyambut baik penguatan sistem operasional tersebut. Menurutnya, SOP dan logsheet memberikan pedoman yang sama kepada seluruh operator sehingga kegiatan tidak hanya bergantung pada satu orang.
”Dengan adanya SOP, setiap anggota memiliki rujukan yang sama. Kami juga bisa melihat catatan kualitas air, pemberian pakan, dan pertumbuhan ikan. Kalau ada masalah, penyebabnya lebih mudah ditelusuri karena datanya tersedia,” ujarnya.
Pendampingan dilakukan melalui lima tahapan utama, yaitu sosialisasi dan pemetaan kondisi awal, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program. Pola pendampingan multisiklus digunakan agar hasil program tidak hanya dinilai dari pemasangan alat atau satu kali pelatihan
Tim juga mempersiapkan sedikitnya tiga kader mitra yang bertugas sebagai operator IoT dan dashboard, operator pakan dan auto-feeder, serta operator kualitas air. Kader tersebut diharapkan mampu mengoperasikan dan merawat perangkat, membaca data, serta mendampingi anggota lain setelah program berakhir
Keberlanjutan program diperkuat melalui pembentukan Unit Layanan Smart Aquaculture di tingkat POKDAKAN. Unit ini akan mengelola operasional perangkat, pemeliharaan dan kalibrasi sensor, penanganan gangguan, pembukuan dana perawatan, serta pendampingan replikasi teknologi kepada anggota lain.
Skema iuran atau biaya layanan dirancang untuk membantu membiayai hosting, domain, larutan kalibrasi, penggantian sensor, suku cadang, dan kebutuhan pemeliharaan lainnya. Seluruh penerimaan dan penggunaan dana akan dicatat dan dilaporkan kepada anggota.
Program ini menargetkan peningkatan kualitas produksi, kemampuan manajemen, dan kemandirian operator. Keberhasilan tidak hanya ditandai dengan berfungsinya perangkat, tetapi juga dengan meningkatnya kepatuhan terhadap SOP, tersedianya data multisiklus, berjalannya pembukuan usaha, serta kemampuan mitra melakukan evaluasi secara mandiri.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok pembudidaya, mahasiswa, dan mitra pemerintah, POKDAKAN Tirta Mukti Baginda diharapkan dapat berkembang menjadi model budidaya nila bioflok berbasis teknologi yang terstandar, efisien, dan berkelanjutan.
Model tersebut selanjutnya akan direplikasi secara terbatas kepada kolam atau anggota lain dengan menggunakan paket SOP, logsheet, dan mekanisme pendampingan yang sama. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada kolam yang menjadi lokasi awal penerapan, tetapi dapat berkembang menjadi praktik bersama di lingkungan kelompok.
Kontak Media: Muhamad Nurdin Abdul Muhaemin Ketua Tim Pelaksana PKM Sniversitas Sangga Buana Nomor telepon: 085220140206 Alamat surel: muhamad.nurdin@usbypkp.ac.id
