PKBM Maharani Situraja Perkuat Kecakapan Hidup, Warga Belajar Dibekali Pelatihan Menjahit

Sumedang | Metronasionalnews.com – Pendidikan tidak selalu berhenti pada ruang kelas. Bagi PKBM Maharani di Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, pendidikan juga harus mampu membuka jalan bagi warga belajar untuk memiliki keterampilan yang bisa digunakan dalam kehidupan nyata.
Semangat itulah yang kembali diwujudkan melalui program pelatihan keterampilan menjahit yang diikuti warga belajar dari sejumlah desa di wilayah Situraja, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program life skill yang dikembangkan PKBM Maharani sebagai pelengkap pendidikan kesetaraan. Melalui keterampilan praktis, warga belajar diharapkan tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga memiliki kemampuan yang dapat menjadi modal untuk bekerja maupun membangun usaha secara mandiri
Kepala PKBM Maharani, Tatang Juwita, S.Sos., mengatakan lembaganya selama ini tidak hanya melayani pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Penguatan keterampilan juga menjadi perhatian agar lulusan memiliki bekal yang lebih lengkap ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Kami melayani pembelajaran nonformal mulai dari Paket A, B, hingga C. Selain pendidikan kesetaraan, kami fokus pada pelatihan keterampilan agar lulusan memiliki bekal yang memadai,” ujar Tatang saat dikonfirmasi di lokasi kegiatan.
Menurutnya, kemampuan menjahit merupakan salah satu keterampilan yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sumber penghasilan. Warga belajar dapat menggunakannya untuk membuka usaha rumahan, menerima jasa jahit, maupun menjadi bekal memasuki dunia kerja.
Program tersebut bukan kali pertama dijalankan PKBM Maharani. Sebelumnya, lembaga pendidikan nonformal itu juga menggelar sejumlah pelatihan kecakapan hidup, di antaranya pembuatan hantaran pengantin di Desa Malaka serta pembuatan kerajinan buket dan souvenir.
Pelatihan kemudian diarahkan pada potensi lokal dan kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan nonformal diharapkan tidak sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga menciptakan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.
Dorong Pendidikan, Tekan Angka ATS
Di sisi lain, keberadaan PKBM memiliki peran penting dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat yang tidak seluruhnya dapat mengikuti jalur pendidikan formal.
Tatang mengatakan PKBM Maharani turut mengambil bagian dalam mendukung target pemerintah daerah, terutama meningkatkan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sekaligus menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS).
Ia mencontohkan program pendidikan yang dijalankan di Desa Cijeler. Selama sekitar tujuh tahun, program tersebut disebut mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendidikan masyarakat hingga RLS warga setempat melampaui rata-rata kabupaten.
Capaian tersebut, menurut Tatang, tidak terlepas dari kerja bersama antara pemerintah desa, pengelola PKBM, keluarga dan masyarakat.
“Sinergi antara pemerintah, pengelola pendidikan nonformal, dan masyarakat harus terus terjalin demi memperluas akses pendidikan bagi warga yang membutuhkan alternatif di luar jalur formal,” katanya
Bagi PKBM Maharani, pendidikan nonformal bukan sekadar pilihan kedua. Ia menjadi jembatan bagi masyarakat yang pernah terhenti sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan sekaligus mendapatkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan kehidupan.
Alumni Diminta Segera Ambil Ijazah
Di tengah pelaksanaan program keterampilan, PKBM Maharani juga menyampaikan layanan bagi para alumni yang telah dinyatakan lulus namun hingga kini belum mengambil ijazah.
Warga belajar lulusan Paket A, Paket B, maupun Paket C diimbau segera mengambil dokumen kelulusan tersebut di Kantor Sekretariat PKBM Maharani.
Pengambilan ijazah dapat dilakukan pada hari dan jam kerja operasional di Jalan Raya Situraja No. 163–164, RT 004/RW 003, Desa Situraja, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang.
Ijazah bukan sekadar selembar dokumen kelulusan. Bagi sebagian warga belajar, dokumen tersebut merupakan bukti bahwa perjalanan pendidikan yang sempat terhenti akhirnya dapat dilanjutkan hingga tuntas.
Sementara keterampilan yang diberikan melalui program life skill menjadi bekal berikutnya: membawa pendidikan dari ruang belajar menuju kesempatan, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik.
Wahyu BK
