Rembuk Stunting Desa Pacing: 1.000 Hari Pertama Kehidupan Jadi Kunci Tekan Risiko Stunting

NGAWI – Upaya mencegah dan menekan angka stunting terus diperkuat di tingkat desa. Pemerintah Desa Pacing, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi, menggelar Rembuk Stunting Dana Desa Tahun Anggaran 2026, Jumat (4/9/2026), bertempat di Pendopo Desa Pacing.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama untuk membahas kondisi ibu hamil, balita, serta berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak sejak masa awal kehidupan.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Pacing Digdo Budi Santoso menekankan pentingnya keterlibatan seluruh unsur masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Penanganan stunting, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan setelah anak mengalami masalah pertumbuhan, tetapi harus dimulai sejak masa kehamilan.
Sementara itu, Bidan Desa Pacing, Nanik Widyaningrum, memaparkan sejumlah kondisi yang menjadi perhatian dalam penanganan stunting di wilayah Desa Pacing.
Berdasarkan data sasaran yang dibahas dalam rembuk tersebut, tercatat 15 ibu hamil, dengan 4 orang masuk kategori kekurangan energi kronis (KEK) dan 4 lainnya memiliki risiko kesehatan lainnya.
Nanik menjelaskan, persoalan stunting berkaitan erat dengan kondisi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni periode sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Pada fase tersebut, pemenuhan asupan gizi menjadi salah satu faktor penting. Selain kekurangan asupan gizi, risiko stunting juga dapat dipengaruhi oleh infeksi yang berulang, seperti diare, ISPA, maupun kecacingan.
“Faktor kebersihan dan sanitasi juga menjadi perhatian. Kondisi lingkungan yang kurang sehat, termasuk persoalan air bersih dan kebiasaan buang air besar, dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada anak,” demikian pokok materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Intervensi Dimulai dari Ibu Hamil hingga Balita
Rembuk stunting tidak berhenti pada pemetaan persoalan. Sejumlah langkah intervensi juga menjadi pembahasan, mulai dari pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal bagi balita stunting, balita dengan gizi kurang maupun balita yang mengalami kondisi 2T.
Selain itu, pemerintah desa juga mendorong pemberian PMT yang bersumber dari desa, pemantauan status gizi, serta penguatan pelayanan kesehatan bagi kelompok sasaran.
Balita yang membutuhkan penanganan lebih lanjut akan mendapatkan rujukan ke puskesmas, termasuk untuk mendapatkan konsultasi dan pemeriksaan sesuai kebutuhan.
Upaya pencegahan juga diarahkan kepada ibu hamil. Kondisi seperti KEK dan anemia menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko terhadap kondisi bayi, termasuk kemungkinan berat badan lahir rendah (BBLR).
Faktor lain yang turut dibahas adalah pola pengasuhan, pemenuhan kebutuhan gizi, kebersihan lingkungan, serta pengaturan jarak kehamilan.
Di sinilah rembuk stunting menemukan maknanya: stunting bukan semata persoalan ukuran tubuh anak, melainkan persoalan panjang tentang gizi, kesehatan, sanitasi, pola asuh, dan kepedulian bersama sejak seorang ibu mengandung.
Melalui kegiatan tersebut, Desa Pacing berupaya memastikan program penanganan stunting tidak sekadar menjadi kegiatan administratif, tetapi benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan.
Sinergi pemerintah desa, bidan desa, kader kesehatan, puskesmas, keluarga, dan masyarakat menjadi modal penting untuk memastikan anak-anak Pacing tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik.
“Mencegah stunting dimulai sebelum anak lahir. Ketika ibu sehat, kebutuhan gizi terpenuhi, lingkungan bersih, dan tumbuh kembang anak dipantau, maka risiko stunting dapat ditekan sejak awal” pungkasnya.
