Di Ruang yang Luas, Tumbuh Harapan: PKBM Wiguna Mekar Menyalakan Kembali Semangat Belajar 97 Warga

Sumedang | Metronasionalnews.com — Sabtu, 26 September 2026. Ada orang-orang yang datang ke ruang belajar bukan hanya membawa buku dan alat tulis. Mereka datang membawa cerita. Ada cita-cita yang pernah tertunda, ada langkah yang sempat terhenti, dan ada keinginan untuk membuka kembali pintu masa depan melalui pendidikan.
Di PKBM Wiguna Mekar, Dusun Cieunteung RT 03/RW 01, Desa Narimbang, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, cerita-cerita itu bertemu dalam satu ruang.
Sebanyak 97 warga belajar putra dan putri saat ini menjadi bagian dari perjalanan lembaga pendidikan nonformal tersebut. Mereka belajar, berproses dan menatap masa depan dengan keyakinan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tidak pernah mengenal kata terlambat.
PKBM Wiguna Mekar hadir dengan sebuah semangat sederhana: menyediakan ruang bagi masyarakat untuk terus belajar.
Bukan sekadar ruang dengan dinding dan atap, tetapi ruang yang diharapkan mampu memberikan rasa nyaman, kesempatan berkembang, sekaligus keberanian bagi warga belajar untuk kembali mengejar cita-cita.
Di tengah suasana pembelajaran yang ditunjang ruang belajar yang luas dan nyaman serta tutor yang profesional, PKBM Wiguna Mekar berusaha membangun lingkungan belajar yang kondusif.
Ketua Yayasan PKBM Wiguna Mekar, Dadang Uuy, turut membawa lembaga tersebut untuk terus berkembang dan memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat.
Sementara itu, Kepala PKBM Wiguna Mekar, Neng Ratnasari Wulan, S.Sos., melihat pendidikan sebagai sebuah pintu yang harus selalu terbuka.
“Kami ingin PKBM menjadi tempat belajar yang tidak hanya memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang nyaman, terbuka dan bermakna bagi setiap warga belajar,” tutur Neng Ratnasari.
Baginya, suasana belajar memiliki arti penting. Ruang yang luas bukan sekadar fasilitas, tetapi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang membuat warga belajar merasa nyaman untuk bertanya, berdiskusi dan mengembangkan potensi.
“Dengan ruang pembelajaran yang luas dan nyaman, kami berupaya menciptakan suasana belajar yang lebih leluasa dan kondusif. Didukung tutor yang profesional, berpengalaman dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan warga belajar, kami berharap setiap peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik serta mengembangkan potensi yang dimilikinya,” ujarnya.

Semangat tersebut sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nonformal yang terus diperkuat pemerintah. Kemendikdasmen menyebut pendidikan nonformal, termasuk pendidikan kesetaraan melalui PKBM, menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bermutu. Program pendidikan kesetaraan juga memiliki kurikulum yang setara dengan pendidikan formal, sementara karakter pendidikan nonformal memberikan fleksibilitas sesuai kebutuhan warga belajar.
Bukan Jalan Kedua, Tetapi Jalan untuk Terus Melangkah
Di mata Neng Ratnasari, setiap warga belajar memiliki kisahnya sendiri. Karena itu, PKBM tidak ingin melihat peserta didik hanya dari usia, latar belakang atau perjalanan pendidikan sebelumnya.
Yang lebih penting adalah keberanian untuk kembali belajar.
“Bagi kami, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik. Karena itu, PKBM hadir sebagai ruang untuk membuka kembali kesempatan tersebut, baik bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan maupun yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya,” katanya.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam.
Sebab pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan selembar ijazah. Pendidikan juga tentang bagaimana seseorang kembali menemukan kepercayaan dirinya, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan.
Pemerintah sendiri pada 2026 mencatat bahwa PKBM dan satuan pendidikan nonformal terus menjadi bagian penting dalam memperluas layanan pendidikan. Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal mencatat ribuan PKBM dan ratusan ribu warga belajar dalam layanan pendidikan nonformal.
Bagi 97 warga belajar PKBM Wiguna Mekar, perjalanan itu sedang berlangsung.
Setiap pertemuan pembelajaran menjadi satu langkah. Setiap materi yang dipelajari menjadi bekal. Dan setiap harapan yang tumbuh di ruang kelas menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan.
“Jangan Takut Memulai Kembali”
Neng Ratnasari juga menyampaikan pesan kepada masyarakat yang masih ragu melanjutkan pendidikan.
Menurutnya, pengalaman masa lalu seharusnya tidak menjadi alasan untuk menutup pintu masa depan.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan. Jangan sampai keterbatasan waktu atau pengalaman masa lalu menjadi alasan untuk berhenti belajar. Selama masih ada kemauan, selalu ada jalan untuk melangkah maju,” ungkapnya.
Mungkin begitulah pendidikan bekerja.
Ia tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir dalam ruang kelas yang sederhana, dalam tutor yang sabar menjelaskan, dalam buku yang kembali dibuka, atau dalam seseorang yang memutuskan untuk mencoba sekali lagi.
Di PKBM Wiguna Mekar, 97 warga belajar sedang menulis bagian baru dalam perjalanan hidup mereka.
Dan di antara ruang belajar yang luas, bimbingan para tutor serta harapan yang terus dirawat, ada satu pesan yang ingin terus dijaga:
Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Sebab selama seseorang masih berani melangkah, masa depan selalu memiliki pintu untuk diketuk.
Wahyu BK
