Hari Terakhir Kampanye, Warno Tegaskan Pilkades Bukan Jalan Menuju Materi, Melainkan Pengabdian

Sumedang | Metronasionalnews.com — Kampanye boleh berakhir, baliho boleh diam, dan suara-suara ajakan segera berganti dengan keheningan masa tenang. Namun bagi Desa Citaleus, Sabtu (24/10/2026), hari terakhir kampanye Pilkades Serentak Kabupaten Sumedang, menjadi titik penting untuk menimbang kembali: ke mana desa akan dibawa dan untuk apa seorang pemimpin diberi kepercayaan.
Di tengah momentum itu, Warno, calon Kepala Desa Citaleus periode 2026–2034, menawarkan satu gagasan yang ia sebut sebagai jalan kebersamaan: “Satu Kata, Satu Hati, Satu Tujuan, Bersatu Kita Mampu.”
Bagi Warno, membangun desa bukan sekadar mengejar perubahan pada wajah fisik kampung. Pembangunan harus menyentuh kehidupan warga—dari pemerintahan yang bersih dan transparan, ekonomi masyarakat, infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, hingga keamanan dan kelestarian lingkungan.
Lima misi yang ditawarkannya menjadi pijakan untuk membawa Citaleus menuju masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera, religius, berkeadilan dan berwawasan.
Namun ada satu pernyataan Warno yang menarik perhatian dan sekaligus menjadi penegasan mengenai alasan dirinya maju dalam kontestasi Pilkades.
Jika kelak terpilih dan telah dilantik sebagai Kepala Desa Citaleus, Warno menyatakan siap membangun kantor desa menggunakan dana pribadi.
Pernyataan itu bukan sekadar soal bangunan. Ia ingin menjadikannya sebagai simbol bahwa langkahnya menuju kursi kepala desa tidak semata-mata didorong kepentingan materi.
“Saya ingin membuktikan bahwa pencalonan ini adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat, bukan karena mengejar materi,” demikian pesan yang disampaikan dalam semangat pencalonannya.
Kantor desa, dalam gagasan itu, bukan hanya tembok, meja dan ruang pelayanan. Ia adalah rumah bagi administrasi pemerintahan sekaligus wajah pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, membangun kantor desa diposisikan sebagai bagian dari upaya menghadirkan pemerintahan yang lebih representatif dan mampu memberikan pelayanan kepada warga.

Tetapi pada akhirnya, sebuah janji tetap harus menunggu pembuktian.
Warga Citaleus tentu tidak hanya membutuhkan kata-kata indah menjelang pemilihan. Mereka membutuhkan pemimpin yang mampu mengubah gagasan menjadi kerja, janji menjadi kebijakan, dan kepercayaan menjadi pelayanan.
Di situlah kualitas seorang pemimpin diuji—bukan ketika kampanye berlangsung, tetapi ketika spanduk diturunkan, suara politik mereda, dan masyarakat datang membawa persoalan ke kantor desa.
Warno juga mengajak masyarakat menggunakan hak pilih dengan bijak serta menjaga persaudaraan. Sebab, setelah masa kampanye berakhir, Citaleus tetap satu rumah. Perbedaan pilihan tidak boleh menjadi tembok yang memisahkan warga.
Pilkades bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia adalah pintu untuk menentukan arah sebuah desa selama delapan tahun ke depan.
Citaleus akan memilih. Citaleus akan menentukan. Dan siapa pun yang mendapat amanah, pada akhirnya harus kembali kepada satu kata yang paling sederhana: mengabdi.
Bagi Warno, pesan itu dirangkum dalam kalimat yang menjadi ruh pencalonannya:
“Satu kata, satu hati, satu tujuan. Bersatu kita mampu.”
Kini, giliran masyarakat yang menentukan apakah gagasan tersebut akan berhenti sebagai janji kampanye atau tumbuh menjadi kerja nyata untuk Citaleus.
Wahyu BK
