Jalan Rusak di Sukatani Ditanami Pohon Pisang, Sindiran Sunyi yang Lebih Nyaring dari Pidato

Sumedang | Metronasionalnews.com – Di tengah gencarnya berbagai program pembangunan dan deretan laporan capaian yang kerap dipublikasikan, sebuah pemandangan tak biasa muncul di ruas jalan Sukamantri–Jingkang Pasir Huni Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar, Kamis (25/6/2026). Sebatang pohon pisang berdiri tegak di tengah badan jalan yang rusak.
Bukan untuk penghijauan. Bukan pula bagian dari program ketahanan pangan. Pohon pisang itu tampaknya hadir sebagai bahasa protes yang lebih mudah dipahami daripada tumpukan proposal atau keluhan yang berulang kali disampaikan masyarakat.
Kerusakan jalan tersebut sudah lama menjadi keluhan warga. Lubang-lubang yang menganga di badan jalan tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama saat musim hujan ketika genangan air menutupi kerusakan yang ada.
Bagi masyarakat, jalan bukan sekadar hamparan aspal. Jalan adalah urat nadi ekonomi, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga penghubung aktivitas sosial warga. Ketika jalan rusak dibiarkan terlalu lama, yang terganggu bukan hanya kendaraan, tetapi juga roda kehidupan masyarakat.
Penanaman pohon pisang di tengah jalan seolah menjadi simbol bahwa kesabaran warga mulai menemukan caranya sendiri untuk berbicara. Jika laporan dan harapan belum cukup menarik perhatian, mungkin pohon pisang dianggap lebih efektif untuk mengundang respons.
Ironisnya, pohon pisang yang baru ditanam itu justru tampak lebih mencolok dibanding kerusakan jalan yang telah lama ada. Seakan-akan kerusakan jalan sudah menjadi pemandangan biasa, sedangkan pohon pisanglah yang dianggap peristiwa luar biasa.
”Ini bukan soal pohon pisangnya, tetapi soal pesan yang ingin disampaikan. Warga hanya ingin jalan yang aman dan layak dilalui,” ujar salah seorang warga.
Peristiwa ini menjadi “panggeuing” bagi para pemangku kebijakan. Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya tentang proyek-proyek besar yang terlihat megah, melainkan juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi hingga ke pelosok.
Masyarakat Desa Sukatani tidak meminta jalan bertingkat, flyover, atau infrastruktur mewah lainnya. Mereka hanya berharap lubang-lubang di jalan yang setiap hari mereka lalui tidak terus menjadi bagian dari rutinitas.
Jangan sampai suatu hari nanti bukan hanya pohon pisang yang tumbuh di tengah jalan, tetapi juga tumbuh anggapan bahwa keluhan masyarakat harus disampaikan dengan cara-cara simbolik agar didengar.
Karena pada akhirnya, jalan yang baik bukan sekadar urusan aspal dan beton, melainkan cerminan hadir atau tidaknya perhatian pemerintah kepada masyarakat yang dilayaninya.
Wahyu BK
