Ratusan Warga Padati Punden, Tradisi Bersih Desa Pojok Jadi Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya

MAGETAN – Ratusan warga Desa Pojok, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, memadati Punden Desa Pojok, Jumat sore, dalam rangka mengikuti tradisi tahunan Bersih Desa. Kegiatan yang diawali dengan selamatan tersebut berlangsung khidmat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa bersama agar desa senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, ketenteraman, dan rezeki yang melimpah.
Tradisi Bersih Desa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Pojok sejak lama. Selain sebagai bentuk syukur atas nikmat dan hasil bumi yang diterima, kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarwarga serta menjaga warisan budaya yang diwariskan para leluhur.
Suasana penuh kekeluargaan begitu terasa ketika ratusan warga dari berbagai kalangan berkumpul mengikuti doa bersama yang dipimpin para sesepuh desa. Kekhidmatan prosesi mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Kepala Desa Pojok, Dedy Sumedi, menegaskan bahwa Bersih Desa bukan merupakan kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Desa maupun perangkat desa. Tradisi tersebut sepenuhnya merupakan inisiatif dan hajat seluruh masyarakat Desa Pojok.
“Acara Bersih Desa ini bukan acara Pemerintah Desa ataupun perangkat desa, tetapi merupakan acara seluruh masyarakat Desa Pojok. Melalui selamatan ini kami bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar Desa Pojok senantiasa diberikan kelancaran rezeki, keselamatan, ketenteraman, serta dijauhkan dari segala musibah. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka dan membangun Desa Pojok,” ujar Dedy.
Usai prosesi doa bersama, kemeriahan berlanjut dengan pertunjukan seni tradisional tayub yang menjadi hiburan bagi masyarakat. Penampilan kesenian khas Jawa tersebut disambut antusias oleh warga dari berbagai usia yang memadati kawasan punden hingga acara berlangsung semarak.
Bersih Desa tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuatnya gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur. Masyarakat berharap tradisi ini tetap lestari sebagai identitas Desa Pojok sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda untuk terus mencintai budaya lokal di tengah arus modernisasi.(Sgta)
