28 Oktober 2026

‎28 Oktober di Sumedang: Ketika Sumpah Pemuda Bertemu Demokrasi Digital Desa

0


‎Sumedang | Metronasionalnews.com — Ada tanggal yang tidak pernah benar-benar menjadi sekadar tanggal.
‎
‎28 Oktober adalah salah satunya. Di negeri ini, ia dikenang sebagai hari ketika para pemuda pada 1928 mengucapkan satu tekad tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Hampir seabad kemudian, tanggal yang sama kembali membawa pesan tentang persatuan—kali ini dari ruang demokrasi paling dekat dengan kehidupan masyarakat: desa.
‎
‎Pada Rabu, 28 Oktober 2026, sebanyak 92 desa di 26 kecamatan di Kabupaten Sumedang dijadwalkan melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak dengan sistem pemungutan suara elektronik atau e-voting/ElDigi.
‎

‎Sebanyak 279.437 hak pilih, 424 TPS digital, dan 295 calon kepala desa tercatat menjadi bagian dari pesta demokrasi desa tersebut.
‎

‎Angka-angka itu memang terdengar seperti statistik. Tetapi sesungguhnya di baliknya terdapat ratusan ribu pilihan manusia—warga yang memiliki harapan, kegelisahan, kepentingan, dan bayangan tentang seperti apa desa mereka akan dibangun setelah pemimpin baru terpilih.
‎
‎Di sinilah 28 Oktober 2026 menemukan maknanya yang berbeda.
‎
‎Dari Sumpah Pemuda ke Suara di Desa
‎Jika Sumpah Pemuda 1928 berbicara tentang bagaimana anak-anak bangsa menyatukan tekad, Pilkades 2026 mengingatkan bahwa persatuan juga harus dirawat di halaman rumah sendiri.
‎
‎Desa adalah tempat masyarakat bertemu setiap hari. Di sana tetangga bukan sekadar nama di daftar pemilih. Mereka adalah orang yang ditemui di jalan, di pasar, di sawah, di masjid, di sekolah, dan dalam kehidupan sosial sehari-hari.
‎
‎Karena itu, kontestasi kepala desa tidak semestinya meninggalkan luka yang lebih panjang daripada masa kampanyenya.
‎
‎Perbedaan pilihan adalah hal biasa dalam demokrasi. Yang tidak boleh menjadi biasa adalah permusuhan setelah pilihan dijatuhkan.
‎
‎Hari ini warga memilih calon masing-masing. Besok mereka tetap harus hidup sebagai saudara sekampung.
‎
‎Demokrasi boleh berbeda suara, tetapi tidak boleh kehilangan persaudaraan.
‎
‎ElDigi: Teknologi Boleh Baru, Kepercayaan Harus Tetap Dijaga
‎Pilkades digital juga membawa cerita baru.
‎
‎Penggunaan e-voting menjadi langkah transformasi demokrasi di tingkat desa. Teknologi diharapkan dapat membuat proses pemungutan suara lebih efektif, modern, transparan, dan akuntabel.
‎
‎Tetapi teknologi bukanlah tujuan akhir.
‎
‎Layar digital tidak otomatis melahirkan demokrasi yang bersih. Perangkat secanggih apa pun tetap membutuhkan penyelenggara yang profesional, prosedur yang jelas, sistem yang andal, dan pengawasan yang dapat dipercaya.
‎
‎Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan sebuah sistem elektronik.
‎
‎Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan warga terhadap hasil pilihan mereka.
‎Ketika seorang warga menekan tombol pilih, ia tidak sedang sekadar mengoperasikan perangkat. Ia sedang menyerahkan sebagian harapannya kepada sebuah proses demokrasi.
‎
‎Karena itu, setiap tahapan Pilkades digital harus mampu menjawab pertanyaan sederhana masyarakat: apakah suara saya benar-benar tercatat, terlindungi, dan dihitung sebagaimana mestinya?
‎
‎295 Calon, 92 Desa, Satu Amanah
‎Sebanyak 295 calon kepala desa kini berada di hadapan pilihan rakyat.

‎
‎Mereka membawa visi, program, janji dan harapan. Tetapi setelah proses pemilihan selesai, hanya sebagian yang akan berdiri sebagai pemenang.
‎Di titik itu, demokrasi kembali diuji.
‎
‎Calon yang menang harus mampu menghapus batas antara pendukung dan bukan pendukung. Ia harus menjadi kepala desa bagi seluruh warga.
‎
‎Sementara mereka yang belum memperoleh kepercayaan harus mampu menerima hasil dengan dewasa dan tetap menjadi bagian dari pembangunan desa.
‎
‎Sebab jabatan kepala desa bukan hadiah.
‎Ia adalah amanah.

‎Ada anggaran desa yang harus dikelola. Ada pelayanan publik yang harus diperbaiki. Ada infrastruktur yang harus dibangun. Ada persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan dan berbagai kebutuhan warga yang menunggu kerja nyata.
‎
‎Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai memenangkan pemilihan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu memenangkan kepercayaan selama masa pengabdiannya.
‎
‎28 Oktober dan Pelajaran tentang Persatuan
‎

‎Mungkin inilah kebetulan yang menarik dari 28 Oktober tahun ini.
‎
‎Pada hari ketika bangsa Indonesia mengenang semangat Sumpah Pemuda, masyarakat Sumedang menjalankan hak politiknya untuk menentukan pemimpin di desa masing-masing.
‎
‎Satu momentum berbicara tentang persatuan.
‎
‎Momentum lainnya berbicara tentang pilihan.
‎
‎Keduanya sebenarnya tidak bertentangan
.
‎
‎Justru demokrasi yang sehat membutuhkan semangat persatuan. Sebab pilihan politik hanyalah bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat, bukan alasan untuk memutus tali persaudaraan.
‎
‎Maka setelah layar digital mati dan hasil pemilihan diumumkan, pekerjaan terbesar justru dimulai: menyatukan kembali masyarakat.
‎Tidak ada lagi nomor satu, nomor dua, nomor tiga.
‎Yang ada adalah satu desa.
‎
‎Dan desa itu harus dibangun bersama.
‎
‎Suara Hari Ini, Wajah Desa Esok Hari
‎Rabu, 28 Oktober 2026 akan menjadi catatan penting bagi demokrasi desa di Sumedang.
‎
‎Sebanyak 279.437 hak pilih memiliki kesempatan menentukan arah kepemimpinan di 92 desa.
‎
‎Teknologinya mungkin digital.
‎TPS-nya mungkin berbeda dari pemilihan sebelumnya.
‎
‎Tetapi hakikatnya tetap sama: rakyat memilih, pemimpin menerima amanah, dan desa menunggu kerja nyata.
‎

‎Karena itu, momentum Pilkades Serentak tidak seharusnya hanya dikenang sebagai hari ketika Sumedang mencoba demokrasi digital.
‎
‎Lebih jauh, ia harus dikenang sebagai hari ketika teknologi digunakan untuk mendekatkan demokrasi kepada rakyat—tanpa menghilangkan nilai yang jauh lebih tua daripada teknologi itu sendiri: kejujuran, persaudaraan, tanggung jawab dan persatuan.
‎

‎Pada akhirnya, ElDigi hanyalah alat. Yang menentukan masa depan desa tetap manusia di balik pilihan itu.
‎
‎Dan pada 28 Oktober ini, ketika Indonesia mengenang Sumpah Pemuda, masyarakat Sumedang kembali mengucapkan sumpahnya sendiri dalam bentuk yang berbeda:
‎Memilih dengan bijak, menerima dengan dewasa, menjaga persaudaraan, dan bersama-sama membangun desa.
‎

‎
‎
‎
‎Wahyu BK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2026 metronasionalnews All Right Reserved | CoverNews by AF themes.